Kamis, 22 Maret 2012
Kuliah Perdana
Apakah pengalaman hari ini sungguh berarti?. YA. Hari ini saya merasa bersyukur karena Wildan bisa kendalikan diri dengan tidak banyak jalan-jalan di kampus. Dua jam lebih duduk manis merupakan hal yang luar biasa bagi anak autis seperti Wildan. Pada kelas kedua, Wildan tidak saya ajak masuk. Dia bisa mencari kesibukan sendiri. Biasanya akan masuk kantor-kantor yang ada. Terutama di Jurusan Bahasa Inggris, TU FKIP, Jurusan Ilmu Pemerintahan, Lab.Drama, dan Jurusan Matematika. Sehabis kelas kedua, Wildan saya ajak ke MAN untuk daftar ulang adik sebagai calon siswa baru di sana. Saat mengisi formulir-pembayaran, dan sampai menyerahkan kembali formulir, Wildan selalu duduk manis di sebelah saya. Begitu pula ketika saya kembali ke kampus dan berbincang-bincang 30 menit di kantor ACICIS di lantai IV yang penuh foto pariwisata & budaya Indonesia, Wildan duduk tenang di sofa. Lalu kami naik ke lantai VI untuk menerima bimbingan skripsi selama hampir dua jam, Wildan tetap duduk di samping saya.
Saya juga bersyukur karena civitas academica sangat pengertian. Mahasiswa di kelas tadi juga sangat bisa menerima kehadiran Wildan. Bahkan saat Wildan bersin, beberapa mahasiswa berinisiatif memberikan tissue. Saat kami antre di depan pintu lift mau pulang, segerombolan mahasiswa PGSD bertanya, "Apakah masnya ini putra ibu?.". Kujawab, IYA. Sambil penuh pengertian mahasiswa itu cerita, "Saya pernah dielus-elus pipi saya bu. Awalnya saya kaget...tapi kemudian saya mengerti masnya ABK." Lebih serem lagi yang mahasiswi, "Kalau saya pernah bu, masuk toilet...masnya buka pintunya hahaha..". Saya jadi merasa tidak enak dan meminta maaf. Namun mereka rupanya sudah familier dengan ABK. Kami jadi tertawa bersama membayangkan kekagetan-kekagetan karena kehadiran Wildan di kampus.
Namun, pernah juga saya mengalami hal yang sangat tidak mengenakkan. Suatu ketika, masuk seorang mahasiswa sambil menahan marah ke ruangan saya, "Maaf bu...anak itu putra ibu ya?." Demi melihatnya dia nampak emosi, saya jawab, "Iya mas...aduh..anak saya bikin ulah ya?." Si mahasiswa melanjutkan sambil terengah-engah, "Begini bu...saya dan kawan-kawan hampir saja menempeleng anak ibu." Prempeng! kurasa wajahku langsung merah, (saya) "Kenapa pasalnya mas? anak saya menyakiti kalian?.". Dijelaskanlah oleh mahasiswa, "Ini sudah bukan pertama kali bu. beberapa hari yang lalu anak ibu juga melakukannya. Dia meludah dari lantai enam, ludahnya meluncur ke lantai empat dimana kami sedang duduk-duduk sehingga terciprati.". ......(Saya) "Aduh maaf mas, Bagi dia mungkin ludah yang meluncur dan berbeluk itu amazing. Tapi itu salah saya karena tidak bisa mengawasinya sepanjang waktu. Maaf ya." Saya tahu, penjelasan saya tidak memuaskan. "Iya bu, tapi mestinya bisa diberitahu."......(saya), "Tidak bisa mas. Saya memerlukan waktu untuk menjelaskan pada anak saya.".....Mahasiswa ini masih juga nampak marah, "Itu bisa bu..saya juga mengerti kok dengan anak semacam itu.".....(saya)" Begini saja mas. Sambil saya mengajari anak saya merubah perilaku meludahnya itu, tolong mas dan teman-teman yang tidak autis jangan duduk dulu di kursi lobi lantai IV ya." hahaha.. ini lebih pada defensif seorang ibu kali yaaa karena betul juga mas itu. Saat itu juga saya beritahu Wildan tidak boleh meludah ke lantai di bawah. Beberapa kali saya peragakan larangan meludah itu. Sejak hari itu, Wildan tidak lagi meludah. Mungkin dia baru tahu, bahwa itu tidak boleh.
Semakin hari, pengendalian diri Wildan menunjukkan perkembangan yang baik. Mungkin karena kami sering membawanya ke tempat-tempat umum. Ayah paling sering mengajak Wildan perjalanan kuliner saat mereka berdua maupun berempat bersama saya dan adik. Bahkan selasa (20/3) lalu ayah berinisiatif untuk membersihkan wajah Wildan dengan facial wajah. Soalnya wajahnya mulai banyak jerawat batu. Tidak terbayang seperti apa reaksi Wildan. Cerita ayah, mula-mula Wildan teriak-teriak saat komedonya diangkat. Sampai-sampai yang punya salon di sms para tetangga untuk memastikan tidak terjadi hal-hal bahaya.hehe...Tapi lama-lama Wildan sepeth menikmati facial, meski kadang masih teriak. Dia mulai enjoy saat mulai dimasker. Dan berkali-kali mengaca setelah semuanya beres dan wajahnya kinclong hihihi.... Semoga ayah tidak membuatnya jadi cowok metrosexual :).
Senin, 07 November 2011
Misteri Rumah Bagi Si Dia
Andaikan kami bisa memaksanya masuk rumah dengan beberapa alasan, dia akan masuk dengan menangis sepanjang tinggal di dalam. Berkali-kali akan terisak sambil bilang, “ulang..ulang.. .(Pulang...pulang).” Segala rayuan yang paling mautpun membuatnya bergeming ingin pulang. Sering Eyang Teu merayunya dengan memberinya kue atau makanan, Wildan akan menerima kue atau makanan tersebut...dengan menangis, kue dan makanan itu cepat-cepat dihabiskan supaya dia punya alasan minta pulang!.
Satu-satunya yang bisa sedikit menahannya adalah bila diminta siram-2 rumput di halaman depan. Itupun kami harus sering-sering ingatkan sebab Wildan suka membelokkan air selang ke halaman tetatngga sebelah atau pada pohon-pohon pinggir jalan yang dibawahnya terdapat modil parkir. Ribet banget deh kalau sudah acara berkunjung ke Eyang Teu.
Memang aneh respon Wildan pada rumah-rumah tertentu dan pada masa tertentu. Ada rumah yang Wildan sangat tidak mau masuk. Ada rumah yang Wildan mau masuk tapi sebentar saja. Dan ada rumah yang Wildan nampak merasa enjoy banget. Sampai sekarang kami belum menemukan faktor-faktor apa yang menyebabkan respon positif dan negatif tersebut.
Dahulu kala (..ketika matahari terbit dari timur), Wildan kecil tidak mau masuk rumah Mbah Buk (Buliknya Mama) di Desa Sidomulyo. Rumahnya besaaar dengan halaman depan, samping dan belakang yang luas. Bila disana, Wildan hanya mau masuk rumah bagian belakang (ruang makan dan dapur) lewat halaman samping. Jikalau dia sempat mau masuk ke ruang dalam, maka dia akan dengan takut-takut menoleh ke ruang keluarga samping sambil matanya melirik-lirik gambar-gambar yang terpaku di dinding dengan ekspresi ketakutan. Terutama gambar kaligrafi, pas photo presiden dan wakil presiden. Belum sempat kita memastikan sebab dia tidak mau masuk ruangan itu, beberapa tahun kemudian dia mau masuk ruang itu dan terlihat enjoy. Yaitu saat ruangan tersebut diganti cat dindingnya dari hijau ke abu2 terang dan digantinya kursi ukiran dengan sofa. Sementara itu satu-satunya kamar tidur yang pernah dia masuk, adalah kamar tidur tante Ulfa yang banyak bonekanya!. Disana Wildan bisa tidur-tiduran santai sambil “menthil” ujung bantal hahaha.
Pada masa-masa itu, bertamu atau berkunjung ke rumah orang lain selalu diawali dengan kekhawatiran, “Wildan mau masuk apa enggak yaaa.”.
Kalau pas dia suka atau enjoy...waduh, bisa juga bikin kewalahan neh. Adalah rumahnya Mbah Dok (Mbah Wedok=mbah putri), orang tuanya Bude Shinta sahabat kami di Areng-Areng (satu dusun dengan kami saat ini). Sekitar tahun 2008-2009 merupakan rumah idola bagi Wildan. Sehari saja kami tidak antar dia kesana.....dia akan rewel dan maksa-maksa kesana. Di rumah Mbak Dok, Wildan keranjingan nge-game di komputer pakde Gun dan makan masakan Mbah Dok, terutama saat itu selalu disediakan nasi panas dari majic jar. Maklum deh tahun2 itu saya belum punya majic jar hahaha...karena kami lebih suka makan dengan nasi dingin #ngeles.com. Akhirnya saya beli majic itu karena sejak Wildan suka ke rumah Mbah Dok, kalau di rumah sendiri mau makan, Wildan panasi dulu nasi di panci!. Kembali ke ruma Mbah Dok. Selain nge Game dan makan, Wildan bisa juga tidur-tiduran di kasurnya mas Ardha. Rumah Mbah Dok ini ciri khasnya memiliki ruang tamu yang luas, yang digabung dengan ruang nonton TV dengan pembatas bufet saja. Di ruang itulah Wildan menghabiskan waktu dengan bahagia sejahtera.
Pada tahun yang sama dengan kesukaannya di rumah Mbah Dok, sebaliknya Wildan sangat antipati masuk rumah Eyang Ti (nenek) di Desa Sidomulyo. Padahal di rumah ibu saya itu Wildan lahir dan hingga usia 2 tahun tinggal. Hingga dia usia 11 tahun, tidak pernah ada masalah bila diajak ke rumah Eyang Ti. Entahlah, pada 2008 itu Wildan akan menangis bila diajak masuk. Saat lebaran maupun acara-acara keluarga, kami jadi tidak bisa ikut dengan enak karena Wildan hanya mau masuk untuk salaman...trus menangis minta keluar dan tidak bisa kembali lagi. Naun juga tidak disangka-sangka pada tahun 2010, sebaliknya Wildan malah tidak mau pulang ke Areng-2.....minta tinggal di rumah Eyang Ti (bahkan sampai 16 bulan di sana). Ada banyak cerita tentang keberadaannya di rumah Eyang Ti yang telah saya tulis di blog ini. Rumah Yang Ti memiliki ruang tamu yang luas, ruang keluarga yang ngerong (seperti di bawah tanah) dan diatas ruang keluarga adalah kamar tidur masa remaja saya. Pokoknya ruang-ruangnya naik turun deh.
Nah, kami menduga-duga...Wildan akan tidak suka dengan rumah sbb:
1. Terlalu banyak barang, atau
2. Tidak ada majalah sama sekali, atau
3. Nampak suram, atau
4. Agak mistis, atau
5. Tidak ada Televisi, atau
6. Ada banyak kaligrafi, atau
7. Dan masih kami pikir2 yang lainnya
Wildan lebih suka rumah sbb:
1. Sedikit barang, atau
2. Banyak majalah, atau
3. Terang benderang, atau
4. Televisinya dinyalakan, atau
5. Lebih banyak foto/lukisan, atau
6. Selalu ada kue-kue, atau
7. Ada bantal yang banyak, atau
8. Memiliki komputer yang tidak rusak, atau
9. Dsb.
Saya tulis “atau” karena aslinya kamipun masih belum bisa pastikan hehehe.
Rabu, 05 Oktober 2011
Menu Campuran
Suatu ketika, Wildan juga akan menyampur menu soto daging dengan urap-urap (daun keniker/daun singkong dengan parutan kelapa). Sayur bening gambas dengan kare ayam, dan atau sup dengan pepes pindang. Nasi goreng dengan gulai terong. Alamak, bagaimana ya rasanya?. Sangat mengherankan, ternyata Wildan tetap saja makan campuran itu dengan lahap!. Duhai kekasihku.
Memang, saya yang seharusnya mengatur menu dengan baik hehehe. Namun kadangkala pusing juga memasak apa karena anggota rumah memiliki kesukaan yang berbeda. Ayah paling suka dengan menu berkuah, terutama bakso dan sup yang mana adik tidak suka bakso dan sayur. Adik sangat maniak dengan menu yang berbahan daging ayam dan bumbu yang berbahan kacang dengan segala olahannya, sementara ayah tidak doyan dengan daging ayam. Wildan dan mama adalah pemakan segala masakan tanpa ada penolakan hehehe. Jadi ada saat mama terpaksa memasak masakan yang tidak padan bila dipadukan. Sementara menu yang semua mau/suka adalah tempe penyet, sate, nasi goreng, dan mie saja.
Diantara menu yang semua dilahap Wildan, ada masakan-masakan favorit dia. Seperti Orem-Orem tahu tempe, bakwan jagung, mendol tempe, dan nasi goreng. Andai setiap hari mama masak empat masakan tersebut, niscaya Wildan tidak akan pernah bosan rasanya. Sayangnya tiga diantara empat menu itu kurang disukai oleh ayah dan adik.
Terhadap menu yang disukai, ada perilaku Wildan yang terlihat lucu menggemaskan. Bila kami mengambil untuk makan, Wildan akan mengawasi dan cepat-cepat menutupnya begitu kami selesai menyendok. Seolah takut habis hahaha. Pernah ada tamu (family) yang kami suguhi menu kesukaan Wildan. Eh, Wildan ikut duduk bersama. Saat salah satu tamu ambil orem-orem, tangannya ditahan oleh Wildan supaya ambilnya tidak kebanyakan! Aduh, bikin malu saja.
Tapi begitulah Wildan. Dia lakukan itu tanpa ekspresi kemarahan dan rasa bersalah. Biasa-biasa saja ekspresinya, seolah itu hal yang wajar dilakukan setiap orang. Padahal, kalau sebaliknya kami lakukan padanya...yaitu menahan dia ambil makanan...dia akan memandang kami, seolah bertanya, “kenapa tidak boleh untukkua????”. Hahaha...ah, autisme.
Selasa, 06 September 2011
Sholat Idul Fitri Yang Pertama

Selasa (30/09) adalah awal bulan syawal terindah bagi kami. Menutup Romadlon yang juga sangat membahagiakan (karena kembalinya Wildan ditengah-tengah kehidupan kami di rumah Areng-areng, setelah 15 bulan lebih dia di rumah Eyang Ti dan ini tahun pertama Wildan Puasa Romadhon), setelah berusia 15.5 tahun Wildan mengikuti Sholat Idul Fitri!.
Hari itu pagi jam 5 pagi Wildan mandi dalam urutan kedua setelah Eyang Teu (Eyang Makasar yang tahun ini bersama kami Sholat Id di Malang). Seperti biasa, dia memilih baju sendiri. Dia belum tahu kalau akan kami ajak Sholat Id. Lalu bergantian kami mandi, hingga kami semua rapi dengan baju untuk Sholat. Baru deh Wildan kuberi baju koko barunya (Jika Wildan sudah rapi duluan, malah bikin kami panik sebab dia pasti tidak sabar untuk segera berangkat). Supaya mau, saya bilang, "Wildan, ayo pakai baju baru..kita pergi ke kampus, sholat di Lapangan Helly." Pokoknya ada kata-kata "PERGI" hehe. Dengan senang Wildan kenakan bajunya. Itu baju yang dia pilih sendiri ketika kami membeli di Sidoarjo seminggu sebelumnya.

Sampai di UMM, parkiran sudah penuh sehingga ayah meminta kami berempat turun lebih dahulu sementara ayah mencari tempat parkir. Mama dan Eyang Teu gandeng tangan Wildan yang nampak ceria. Adik mencari tempat sholat, sementara Wildan direncanakan ikut dalam shof wanita saja bersama mama dan Ayang Teu. Kami memilih yang paling belakang sebagai jaga-jaga apabila Wildan “trouble”. Tidak lama, sholat dimulai.
Saat sholat, tentu saya tidak bisa kusyu’ karena deg-degan Wildan bikin “ulah”. Rakaat pertama, Alhamdulillah Wildan mengikuti dengan lancar. Takbir, ruku’, dan sujud. Meskipun tidak “tumaknina”, dan Wildan selalu sujud mendahului imam hehehe. Rakaat kedua..nah!. Habis takbir pertama, aman. Takbir kedua...Wildan langsung ruku’....walah...kulirik dia tolah toleh...lalu diam-diam dia ikut sendekap lagi. Takbir ketiga...Wildan langsung ruku’ lagi..hehe..dia tolah toleh..lalu diam-diam ikut sendekap lagi....(mungkin dia mulai bingung hiks.)...Takbir keempat....sebelum kecele ruku’ lagi, Wildan tolah-toleh dulu....hahaha....trus mungkin untuk menutupi malu, dia cium Eyang Teu (pasti Eyang juga jadi tidak kusyu’ deh). Begitulah....hingga dua rakaat ditutup dengan salam, Wildan mengikuti penuh.
Saatnya dengar ceramah. Wildan duduk bersila dengan santai. Tidak “bersuara”, tapi wajahnya penuh dengan senyuman gembira. Eyang juga nampak bahagia karena baru tahun ini bisa Sholat Id bersama Wildan (dapat ciuman lagi hahaha). Mereka berdua nampak mesra. Menjelang akhir ceramah, Wildan menoleh menatap eyang....tiba-tiba dia tersenyum lebar dan sedikit mengangkat pantatnya yang kiri...lalu terdengar “duut!” Aduh mak!...Wildan kentut!. Kami bertiga tertawa...aduh, untung duduk paling belakang dan Wildan duduk ditengah-tengah antara mama dan eyang....untung tidak berbau dan semoga tidak ada yang mendengar .
Saat usai semuanya, kami berjalan bergandengan....adik dan ayah terpisah sudah. Wow.....berjubel orang menuju jalan keluar di jembatan depan kantor satpam. Saya sudah khawatir Wildan akan rewel ditengah-tengah kerumunan itu. Alhamdulillah, ternyata tidak juga. Meski berjubel-jubel, Wildan nampak santai saja..malah beberapa kali dia berjalan di depan kami menerobos mencari jalan. Sampai di tempat parkir yang jaraknya sekitar 100 meter, Wildan tidak rewel sama sekali.
Itulah pengalaman pertama Wildan ikut Sholat Id di usia 15.5 tahun. Selama ini kalau sholat id, mama dan ayah bergantian nemani Wildan melihat Sholat dari dalam mobil saja. Kami selalu mencari tempat sholat id yang terbuka dan bisa dilihat dari lokasi parkiran. Biasanya di halaman SDN Sengkaling karena kami bisa melihat dari parkiran di depan Warung SS (atau depan kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kab.Malang). Bukan apa-apa, kami takut perilaku Wildan mengganggu kekusyukan para jamaah sholat. itupula yang menjadi alasan kenapa kami belum memperkenalkan Wildan sholat di masjid.
Saat masih tinggal di Dau, usia Wildan kira-kira 7-8 tahun, dia suka ke musholla dekat rumah. Tapi Wildan tertarik dengan kabel dan microfon. Saat itu, dia suka merebut microfon orang yang sedang berbicara melaluinya. Trus juga Wildan tidak bisa duduk atau berdiri diam. Pasti dia akan jalan-jalan di musholla. Disamping itu hingga sekarang, Wildan masih suka keluarkan gumaman dari mulutnya. Tentu semua itu akan mengganggu konsentrasi para jamaah.
Terimakasih ya Allah, tahun ini kasih sayangMu begitu nyata. Semoga Sholat Idul Adha ke depan dan Sholat Id dari tahun ke tahun selanjutnya Wildan bisa mengikuti. Termasuk puasa romadhon dan sholat fardlu yang masih sangat jelek kwalitas maupun kwantitasnya.
Sabtu, 13 Agustus 2011
Hikmah Bulan Romadhon
Alhamdulillah, sudah 10 malam Wildan di rumah Areng-areng lagi. Tepatnya sejak nenek harus opname di rumah sakit, kamis 4 agustus 2011. Hari pertama puasa romadhon, Wildan dan nenek tidur areng2 tapi senin 1 agustus saat nenek harus pulang, Wildan ikut lagi ke Sidomulyo. Kamis usai taraweh, kami ke Sidomulyo mendapati nenek yg sedang menggigil sakit di kamar Wildan. Mereka hanya berdua. Kami panggilkan dokter, katanya hanya masuk angin. Lalu nenek dan Wildan kami bawa ke rumah Areng2 supaya mudah merawatnya. Hingga jam 23-an nenek semakin panas. Akhirnya kami bawa ke rumah sakit dan harus opname hingga Minggu. Selama itu saya nungguin nenek. Praktis Wildan harus di rumah Areng2 dengan ayah dan adiknya.
Ternyata Wildan sangat mengerti. Begitu diajak nengok nenek di rumah sakit, Wildan melihat sendiri bahwa nenek tidak mungkin pulang dengannya. Dipijitnya kaki nenek. Diperiksa selang infus. Lalu lihat tangan neneknya. Saat harus pulang bezoek, Wildan juga mau salim sama nenek. Kata ayah, di rumah Wildan juga tidak rewel. Minggu nenek pulang dari rumah sakit dan Selasa nenek pulang ke rumah Sidomulyo, Wildan juga tidak rewel diajak pulang lagi ke Areng2. Sampai saat ini. Apalagi Rabu nenek juga kembali kami jemput ke Areng2. Hari ini, Minggu 14 Agustus nenek akan pulang lagi ke Sidomulyo. Semoga Wildan tidak minta pulang ke Sdomulyo lagi.
Selama di rumah areng-2, Wildan punya kegiatan tetap: menyiram bunga di taman depan maupun di taman samping. Setiap waktu dia inginkan hehe. Sehari bisa empat kali dia menyiram bunga. Selain itu, dia dengan tertib akan cek apakah handuk adik sudah dijemur, piring2 sudah dicuci atau belum, dan selalu buka gembok pintu pagar sebelum adiknya berangkat sekolah. Lalu Wildan akan ikut saya antar adik sekolah dan dilanjutkan dengan belanja.
Rutinitas kami di bulan puasa Romadhon ini rupanya juga diamati oleh Wildan. Sudah empat hari ini Wildan ikut puasa!. Saat sahur dia ikut bangun dan makan. Lalu sepanjang hari dia tidak makan dan minum lagi hingga tiba berbuka. Mula-mula kami mengira Wildan tidak berselera dengan nasi yang kurang lembek (dia suka nasi lembek. Dan kadangkala menangis kalo nasi agak keras). Namun, saat saya sediakan juga nasi lembek..ternyata memang benar dia juga tidak tertarik. Rupanya Wildan ingin juga puasa!. Alhamdulillah.....walau kami tidak tega sebenarnya mengingat selera makannya itu luar biasa. Tapi karena itu keinginannya sendiri, kami mensyukuri betul.
Kami tersenyum geli saat menunggu adzan magrib. Wildan akan periksa apa yang terhidang. Begitu adzan tiba, sama dengan yang lain...Wildan akan ikut menyerbu hidangan takjil terlebih dahulu. Lalu dengan tergpoh-gopoh, Wildan segera mengambil nasi dan lauk pauknya. Lahap sekali makannya hingga tuntas. Tidak seperti biasa, selama puasa kalau makan dia tidak pernah nambah. Seolah memberi tahu bahwa dia makan secukupnya.
Ada peristiwa lucu pada hari keempat. Selama puasa, kami tetap menaruh kaleng biskuit di meja makan. Khawatir bila Wildan lapar di siang hari. Namun, selama dia puasa Alhamdulillah tidak tergoda mengambil biskuit tersebut. Begitupula dengan minuman, Wildan tidak minum sama sekali sepanjang hari. Padahal juga biasanya luar biasa banyak minum air putih. Nah, sabtu kemarin....sepulang dari kampus jam 12.30-an (dia dengan suka ria ikut saya ke kampus sejak jam 8 WIB), Wildan buka kaleng biskuit. Tapi dia ambil remah-remahnya saja. Saya pura-pura tidak lihat. Eh, lalu dia buka kaleng biskuit lagi. Pas nenek melihatnya. Nampak Wildan malu. Dia ambil cuma setengah potong sambil tertawa lalu lari keluar ke gazebo dan cepat-cepat memakan biskuit tersebut. Setelah itu dia puasa lagi hingga magrib tiba!.hahaha
Ya Allah...kami sangat bahagia dengan semua ini. Wildan semakin mengerti dan semakin bisa kendalikan diri. Tatapan matanya juga semakin lama. Saat dia “berkomunikasi’, selalu menatap mata orang yang diajak berkomunikasi hingga selesai “pembicaraan”. Ciri utama anak autis adalah menghindari tatap mata dengan orang lain.
Jadi teringat 3 bulan pertama intervensi dilakukan saat Wildan berusia dua tahun. Tiga bulan pertama itu, Wildan hanya diajari dan dipaksa mau kontak mata. Begitu memang metode Lovaas yang diterapkan oleh Cakra Autism Therapy Centre. Tentu saat itu begitu sulit. Wildan mengamuk. Meja dan kursi belajarnya dilempar. Dia mengompol di ruang kelas. Pelatih dilempar botol susu. Teriak. Menangis, dan membangkang luar biasa. Segala macam prompt (bantuan) juga nampak sia-sia. Baik model prompt, visual prompt, apalagi phyisic prompt...(aduh! Saat menulis ini Wildan menggelendot dibelakang pundakku, ikut membaca. Bahaya nih, jangan-jangan dia mengerti sedang kutulis hehe. Tapi lanjut saja deh karena dia senyum-senyum sambil sesekali ciumi pipiku).
Saat itu, begitu Wildan mau menatap mata pelatihnya walau hanya satu detik...sudah merupakan pencapaian luar biasa. Dua detik, tiga detik, empat detik...selalu disertai dengan reward untuknya. Tidak terbayangkan saat itu bahwa sekarang dia sudah mau kontak mata sepanjang “berkomunikasi”.
Pada proses intervensi dan eksperimen saya dengan bu Anne (teraphist), akhirnya dikemudian hari kami menemukan bahwa melatih Wildan efektif dengan metode Model Prompt. Itupula barangkali, saat ini tanpa diminta dan diajarkan, Wildan empat hari ini mau berpuasa romadhon. Dia mengamati kami sebagai model dengan rutinitas kami selama puasa ini Subhanallah.
Sabtu, 05 Februari 2011
Ritual Potong Rambut
Apa sih arti potong rambut bagi anak autis seperti Wildan?.
Mendengar “Potong rambut, yuk” bagi dia seolah sudah tertusuk sembilu sehingga segera Wildan menjawab dengan teriakan, “Tidak! Tidak!’” yang menyayat hati (ihh..lebay boleh dong).
Mungkin bagi Wildan potong rambut begitu mengerikan seperti gambar-gambar yang disimpannya di laptop, berikut:
Kami amati, Wildan selalu memilih gunting sendiri, dan apa yang dipilihnya tidak bisa diganti. Kalau dia ingin gunting yang gagangnya hitam ya hitam. Diganti yang gagang coklat, dia akan menolak dan apabila diteruskan dia akan rewel sehingga acara potong rambut terancam gagal!.
Seperti Minggu 30 Januari lalu. Berdua saya ajak dia ke tukang potong rambut. Saat kami masuk, masih ada seseorang yang potong. Wildan mengamati dengan seksama cara tukang potong bekerja. Apalagi saat menggunakan cukur listrik, dan kemudian cukur biasa untuk membersihkan rambut-rambut yang kecil di sekitar leher belakang. Begitu kain penutup badan mulai dibuka, Wildan tahu sesaat lagi pasti gilirannya. Dengan serta merta, Wildan segera memberesi alat cukur, cukur listrik, dan gunting seset….dimasukkannya dalam sebuah laci. Sehingga tinggal satu gunting bergagang hitam. Rupanya dia takut di cukur!. Jangan coba-coba menggunakan alat yang lain yang tidak dia pilih. Bisa gagal acara potong hari itu.
Saya pernah menulis tentang bagaimana tersiksanya saat-saat dia harus potong rambut. Saat usianya 3-4 tahun, kami harus “nggrebuk” di salon rambut hingga akhirnya ada satu salon saja yang dia mau masuk. Salon tersebut berjarak sekitar 10 km dari rumah kami. Itupun Wildan harus dirayu-rayu dengan diberi kebebasan memegang tabung semprotan air. Hal tersebut menjadi semacam ritual. Alhasil begitu tuntas rambutnya dipotong, sang pemotongpun mesti rela basah kuyub hehehe..
Usia 5-8 tahun acara potong rambut dilakukan di sekolah. Para pelatih (therapist) mencoba mengajak Wildan bermain ayunan. Sambil bermain itulah rambut dipotong sedikit demi sedikit. Biasanya memerlukan waktu tiga-lima hari terantung mood Wildan sampai kepalanya plonthos. Alhasil, bukan hal yang mengagetkan lagi selama tiga-lima hari Wildan melenggang dengan rambut blontang-blonteng di kepala. Kami putuskan untuk selalu menggundulinya supaya tidak sering-sering motong rambut lagi.
Tahun 2004 saat usianya 8 tahun lewat hingga usia 10 tahun, Wildan lebih kooperatif saat potong rambut. Tempatnya di sebuah salon kira-kira satu kilo meter dari rumah. Meskipun ketika dijak, ”potong rambut, yuk” dia masih jawab ”Tidak! Tidak!”, namun Wildan dengan sukarela mau masuk salon dan duduk di kursi ”pesakitan”. Ada ritual yang rupanya membuat dia senang, yaitu usai potong......dia langsung mandi di salon tersebut!.
Usia 10 tahun hingga 14 tahun, salon langganan pindah ke salon yang sangat populer dikalangan mahasiswa. Diajak ke salon tersebut, Wildan langsung mau nyaris tanpa perlawanan. Bahkan ketika harus antre, dia juga tidak rewel. Agaknya Wildan menikmati karena di salon tersebut banyak majalah. Sambil menunggu gilirannya, dan saat mulai dipotong rambutnya, dia asyik membuka-buka majalah yang penuh dengan gambar-gambar mode.
Alhamdulillah, sekarang usia 15 tahun Wildan bisa diajak potong di salon manapun. Asal...dia yang tentukan gunting mana yang akan dipakai. Astaga! Baru kepikiran saat menulis ini, kenapa kami tidak membawa gunting sendiri saja yaaa....barangkali Wildan lebih merasa enjoy.
Rabu, 12 Januari 2011
Pulang Hanya Semalam
Waduh..tak terkira senangnya hati kami semua. Melihat Wildan di rumah, rasanya nafas ini berhenti karena kekhawatiran dia rewel minta balik Batu. Sejak dia masuk rumah dengan ceria, semua orang harus menjaga ucapan dan sikap, jangan sampai ada yang menyinggung soal rumah Batu atau membuat hatinya "tidak berkenan" hehehe.
Wildan masuk rumah. Hal pertama yang dilakukan adalah memeriksa semua ruangan. Lalu dia hidupkan televisi, dan menyiapkan laptop di meja. Beberapa menit kemudian, dia sudah sibuk dengan game di laptop. Malam itu, saya tidak bisa berlama-lama bersamanya. Sebab, sudah ada janjia dengan dokter di Lavalette. Saat pulang dari dokter, pas di Dinoyo 7 km dari rumah ayah sms supaya kami tidak masuk rumah dulu sebab Wildan baru saja rewel minta balik ke Batu dan saat itu sedang "dibaringkan" supaya segera tidur dan melupakan keinginannya. Oalah...repot amat yach :).
Saya pun jalankan mobil pelan-pelan. Mampir beli terang bulan, mampir ke minimarket untuk mengulur waktu. Begitu masuk jalan ke kavling rumah, saya sms ayah memastikan apakah Wildan sudah tidur?. Eh, ternyata belum. Akhirnya mobil saya parkir agak jauh dari rumah, dan pelan-pelan kami lewat belakang rumah langsung ke dapur. Pintu masuk rumah induk hanya satu di belakang. Kami menunggu di dapur. Mata sudah sangat mengantuk, jam 22-an Wildan belum juga tidur. Akhirnya saya tertidur di dapur. Entah berapa menit lamanya, saat kemudian dibangunkan ayah. Sayapun masuk rumah walau Wildan belum tidur. Tapi tidak berani menengok ke arahnya, takut dia mengerti bahwa mobil sudah pulang dan dia minta antar lagi ke Batu. Tidak kuat dengan kantuk dan capek, saya langsung tidur di kamar.
Esok pagi, Wildan kesiangan bangun. Sementara saya siap-siap masuk pagi karena harus cek anak-anak PR yang mau pameran Poster hasil pertanggungjawaban Praktik PR (baca beritanya di: www.umm.ac.id/umm-news-1783-pertanggung-jawaban-praktik-pr-lewat-poster.html). Tentu saya tidak berani membangunkannya. Pelan-pelan kuberbaring sejenak disamping Wildan. Rasanya ingin memeluknya. Posisi tidurnya lucu sekali, menjingkrung hehe. Tidak berapa lama dia bangun, kesempatan segera menciumnya. Lalu saya siap-siap ke kantor. Waktu saya berangkat, Wildan baru saja usai mandi. Kupamiti, dia salim dan cium pipi.
Seharian kemudian, saya menenggelamkan diri dengan tugas-tugas di kampus. Sore jam 16.30 pulang. Malas rasanya karena sudah tahu dari sms ayah, bila Wildan, adek, dan nenek telah kembali ke Batu pagi saat saya di kantor. Masuk rumah jam 17.15, suasana lenggang. Yah, konon Wildan minta ikut kembali ke Batu karena nenek waktu itu akan pulang sebab ada urusan mengerjakan tugas-tugas Koperasi IBU. Begitu Wildan lihat nenek siap pulang, dia segera memberesi barang-barangnya: laptop, buku, dan celana panjang. Semua dimasukkan tas dan dia siap ikut kembali ke Batu. Akhirnya adek juga ikut ke Batu karena masih liburan.
Begitulah, rasanya seperti mimpi saja Wildan pulang...tidur rumah hanya semalam. Saya kecele'. Kupikir si dia sudah mau pulang, ternyata hanya menengok rumah. Bantal dan kasur belum sepenuhnya bau dirinya......
Kamis, 24 Juni 2010
PUTUS ASA?
Semula dengan diterimanya Wildan sekolah di SDN 2 Tlekung dan juga melihat betapa riang gembiranya Wildan berangkat sekolah, kami mulai merasakan kelegaan. Seolah masalah studi Wildan akan terpecahkan. Namun seiring berjalannya waktu, Wildan hanya bertahan sekolah 3 bulan. Selanjutnya, tanpa sebab yang pasti...Wildan mogok. Maunya hanya di rumah nenek di Batu dan andai ada di rumah, dia ogah-ogahan ke sekolah. Bila dipaksa sekolah, dia marah dan uring-uringan.
Sampai saat ini kami tidak tahu pasti, kenapa?.
Hasil dialog dengan guru sekolah, mereka menduga Wildan mengalami semacam trauma karena sempat kami terlambat menjemput hingga satu jam. Saat itu, jam 9.30 seharusnya dia sudah keluar kelas untuk pulang. Tapi penjemput datang jam 10.30-an. Selama menunggu jemputan, konon Wildan menangis, marah, dan minta diantar pulang oleh salah satu guru yang ada. Sejak itu dia mulai ogah sekolah.
Namun berbarengan dengan kasus tersebut adalah Wildan mulai sangat kerasan tinggal di rumah nenek dan bermanja-manja di sana. Datang ke sekolah mulai senin-kamis. Apalagi setelah sekolah sempat diliburkan 3 hari karena pihak sekolah fokus pada persiapan UNAS untuk murid kelas VI. Semakin bertambah lagi manakala sekolah diliburkan seminggu karena UNAS. Lengkap sudah. Wildan semakin merasa enjoy tidak sekolah.
Praktis, dua bulan ini rasanya tidak ada progress soal akademik Wildan.
Satu masa yang sangat sulit bagi kami. Rasanya mengalami jalan buntu bagaimana mengarahkan Wildan. Mana dia juga tidak mau pulang, tidak mau dijemput dari rumah nenek, bahkan tidak mau ditungguin saat di sana. Kenapa dia menolak kami (ayah dan ibunya)?. Itu yang menyedihkan.
Kami mengamati, sepertinya Wildan ingin nenek tinggal bersama dia. terserah mau di rumah Batu apa di rumah Areng-areng. Keberadaan nenek yang setiap waktu ada dekat dengannya sepertinya membuat Wildan nyaman. Sekaligus manja. Makan minta disiapkan nenek, seringkali juga minta disuapin. Apa daya, nenek tidak bisa tinggal bersama kami di Areng-areng. Rasanya kami tidak tega memaksa nenek menghentikan seluruh kegiatan sosial masa tuanya di Batu. Berbagai pengajian yang diikuti, aktivitas sebagai pengurus ormas keagamaan, aktivitas sebagai pengurus koperasi desa, aktivitas sebagai pengurus PKK, merupakan jejaring sosial yang penting bagi seorang pensiunan seperti nenek. Kwalitas hidup sosialnya didapatkan dari kiprahnya di masyarakat. Mana mungkin kami memutus semua aktivitas yang baik itu digantikan dengan meminta nenek tinggal di rumah Areng-areng?.
Andai mungkin kami seharusnya bisa mengantar nenek di setiap aktivitas itu. Toh jarak rumah Areng-areng dan rumah Batu hanya 10 km?. Beranikah kutawarkan solusi ini pada nenek?.
Ya Allah....
Senin, 22 Maret 2010
ORKESTRA DISEKELILING WILDAN
Misi utama pembuatan blog ini adalah memberi informasi, inspirasi, dan motivasi bagi siapa saja yang hidup bersama penyandang autis. Siapa saja yang hidup bersama anak autis, saudara autis, tetangga autis, teman autis, maupun kenal anak autis. Saya ingin berbagi dari sudut pandang yang sangat subjektif sebagai seorang ibu yang kebetulan sebagai civitas academica sebuah perguruan tinggi. Barangkali peran saya tersebut membuat tidak objektif dalam mengupas sesuatu tentang Wildan dan karya-karya Wildan. Maka apa yang saya sampaikan disini, bukanlah sebuah sejarah. Namun hanyalah merupakan serpihan jejak dari jendela pikiran seorang ibu yang kebetulan sebagai civitas academica.
Sebagai seorang ibu, saya memandang perkembangan Wildan dari banyak kacamata. Ada kacamata kekhawatiran, harapan, keputusasaan, kepasrahan, dan ketidak berdayaan. Ketika harapan dan kepasrahan sedang bersemayam dalam diri ini, maka cerita-cerita tentang Wildan adalah sebuah cerita yang menggembirakan, terkesan jenaka, lucu, menyenangkan dan mendapat banyak hikmah serta rasa takjub kepadaNya atas semua caraNya memberi hikmah. Namun ketika kekhawatiran, keputusasaan, dan ketidak berdayaan yang menguasai diri, maka cerita tentang Wildan kadangkala harus kusembunyikan dalam kata-kata yang berbeda. Bukan untuk menyembunyikan sejarah, namun untuk mengingatkan bahwasannya lebih banyak cerita yang menyenangkan bersama dia.
Ada saat kekhawatiran, keputusasaan, ketidak berdayaan tidak lagi mampu diterjemahkan kedalam kata-kata......tidak pula sanggup dibagi dengan yang lain, meski itu dengan suami atau ayah dari Wildan. Saya tahu sebenarnya ayah Wildan juga mengalami hal yang sama. Pasang surut emosi dan logika. Bahkan terkesan lebih rapuh perasaannya pada Wildan. Masa waktu pertama Wildan senam disekolah, ayahnya menyempatkan telepon ke hapeku bilang terharu lihat Wildan senam dengan gembira. Perasaan mereka memang ada sejarah yang panjang (walah...kok seperti anak angkat ya? Qiqiqi). Ada suatu masa, ayah Wildan merasa hidup sendirian bersama Wildan. Suka duka dilalui hanya dengan Wildan, dalam keheningan cakap dengan Wildan, hanyalah percakapan kasih sayang diantara mereka berdua. Yaitu ketika saya harus melanjutkan studi di Bogor tahun 2002-2004. Dan adik Wildan, harus sekolah di Batu dan tinggal bersama neneknya. Jadi, soal Wildan seringkali ayah Wildan lebih cengeng dan melankolis.
Selama masa itu, kemajuan yang sangat besar bagi Wildan adalah terlepasnya dia dari pola makan yang monoton (hanya susu, telur, mie, kue bolu.....yang pernah kuungkap dalam tulisan terdahulu di blog ini) menjadi pola makan yang beragam selayaknya orang lain. Wildan mulai mau makan sayuran, nasi, dan berbagai lauk pauk. Wildan juga mulai bisa meninggalkan botol susunya berganti gelas. Hal itu merupakan usaha keras, konsisten, dan disiplin dari ayah Wildan yang melakukan konspirasi dengan pembantu dan para guru di sekolah autis ha..ha..ha.!. Tentu saja semua harus dilakukan dengan pemaksaan. Wildan sampai muntah-muntah ketika dipaksa memasukkan sayur, nasi, dan lauk yang baru. Bahkan ketika dia dipisah dari botol susunya, ayah Wildan bela-belain begadang selama dua minggu karena nemani Wildan yang gak bisa tidur tanpa ngedot!.
Suatu upaya yang gak mungkin bisa aku lakukan!. Sebagai seorang ibu dari anak penyandang autis sebenarnya aku termasuk kurang tegas, konsisten, dan disiplin. Begitupula apabila berkaitan dengan ”pemaksaan” saat Wildan sakit harus ke dokter. Pernah lutut Wildan harus dijahit, atau saat sunat, ayah Wildan yang harus mendampingi. Pokoknya hal-hal yang ”tidak menyenangkan” itu menjadi tugas ayah Wildan. Gak ayal, dia mendapat julukan ”ayah yang galak” dari teman-temannya. Namun rupanya, kasus Wildan sangat memerlukan seseorang yang ”galak”, tepatnya ”tegas”.
Lucu sekali mengamati "ketakutan" Wildan sama sang ayah. Bila Wildan dimarahi ayahnya....seperti anak-anak yang lain, dia selalu berlindung diketiak ibunya. Namun kalo anak-anak lain melakukan dengan tersamar, Wildan melakukan dengan ”lebay” dan wajah jenaka, sehingga bikin orang gak tahan marah lama-lama kepadanya ha..ha... Bisa kebayang bahwa ayah Wildan teraduk-aduk perasaannya, antara ingin memeluk dan memberinya pelajaran. Namun, demi konsistensi tampang "galak" harus dipertahankan dibalik perasaan teraduk-aduk itu. (Semoga urat leher dan wajah sang ayah tidak putus saja hehe..)
Orang kedua yang harus tegas setelah ayah Wildan adalah adik Wildan. Ada tulisanku tentang significant person bagi kemajuan Wildan di awal-awal kemunculan blog ini yang menceritakan bagaimana sang adik adalah prime therapist bagi Wildan. Adik yang mengajarkan kakak Wildan bisa membersihkan diri sendiri usai b a b (buang air besar). Manakala ayah tidak ada, adik yang mengatasi “pembangkangan” Wildan menjadi kepatuhan. Adik yang bisa membuat Wildan melakukan kegiatan-kegiatan seperti anak-anak lain yang sebaya dengannya. Adik yang bisa bertengkar dengan kakak sehingga kakak serasa anak-anak “normal” yang nakal, sekaligus yang “berbakti”. Mereka punya permainan-permainan yang hanya mereka berdua yang tahu bahwa itu mengasyikkan.
Sebagai seorang civitas academica, saya melihat fenomena Wildan dari sisi ilmu pengetahuan dan kontrol sosial. Bercerita tentang Wildan, tentang karya-karyanya, perkembangannya, rencana-rencana untuknya merupakan hamparan Ilmu Pengetahuan yang menakjubkan. Tentang Wildan adalah bab-bab tentang teori komunikasi. Mengikuti gerakannya adalah melagukan not-not balok. Mengamati kebiasaannya adalah ilmu kesehatan. Relasinya dengan orang-orang sekitar sangat sosiologis. Mengikuti kemauanya adalah praktek politik tanpa vested interested. Membacanya seolah membaca manuskrip-manuskrip kemanusiaan. Menyelami apa yang dilakukan adalah tabulasa personal. Berenang didalam matanya adalah kebajikan. Memandangnya adalah keimanan akan kebesaran Tuhan.
Peran itu menuntunku untuk bercerita tentang Wildan dari sisi yang lebih rasional dan logis, dimana melalui cerita tersebut aku berharap orang lain mendapat informasi dan pelajaran tentang autisme dan penyandang autis. Melalui peran itu, blog ini juga ingin melakukan kontrol sosial, terutama pada gerakan warga minoritas. Bagaimana masyarakat yang dilegalkan oleh negara masih melakukan diskriminasi pelayanan pada warga minoritas yang perlu perlakuan khusus. Namun kujaga seobjektif mungkin apabila terjadi hal yang sebaliknya, terutama setelah anak-anak sekolah (TK dan SD) mulai dibiasakan menerima kehadiran anak-anak berkebutuhan khusus, berinteraksi, dan saling mengenal diantara mereka. Sekolah Inklusi adalah pilihan yang tepat.
Begitulah........
Semoga semua pihak bisa mengambil hikmah apa yang tersajikan dalam blog ini.
Jumat, 22 Januari 2010
Kalau Wildan Sakit
Sepanjang hidup Wildan ini, ada beberapa kali dia mengalami sakit. Seperti anak-anak pada umumnya, sakit flu..diaree..batuk...pilek..demam...gatal/alergi...luka terbuka...sakit mata...dan infeksi luka..juga dialami oleh Wildan. Semoga tidak ada penyakit yang aneh-aneh. Amin ya Allah.
Teman-teman sering bertanya, bagaimana bila Wildan sakit?.
Subhanallah...Allah memang Maha Adil dan Bijaksana.
Penyandang autis, konon memiliki ambang rasa sakit yang dalam. Artinya dia lebih kuat bertahan dibanding rata-rata anak biasa. Mungkin dalam kasus Wildan itu benar. Dia sangat cool dan mandiri saat sakit. Tidak pernah merengek...manja...dan rewel.
Baru saja dia kena "cantheng". Itu loh, luka di kuku kaki. Biasanya di jempol. Nah sebulan dia canthengen di jempol kaki sebelah kanan. Kukunya menghujam ke daging, nampak berusaha mengelupas, daging disekitar kuku bengkak. Pastilah rasanya cenut-cenut. Namun begitu, Wildan tidak pernah menangis, Dia tetap beraktivitas sperti biasa, mandi seperti biasa, dan tentu pake kaos kaki seperti biasanya. Bedanya hanya dia minta jempolnya selalu diperban. Kalo tidak ada yang tahu, dia akan ganti sendiri perbannya setiap kali habis mandi atau perban sdh nampak kotor. Ketika kami belikan obat oles dan salep...dia juga gunakan salep itu sendiri, tdk perlu nunggu ditolong. Jadi teringat saat dia sunat. Wildan merawat sendiri luka sunatnya itu. Bahkan tidur tidak mau ditemani siapapun. Kemandiriannya patut disyukuri.
Kuamati dan kuingat-ingat pelajaran darinya dalam menghadapi sakit.
Wildan lebih banyak minum air putih manakala sakit. Lebih banyak tidur. Makan tetap teratur. Dan tertib minum obat apabila memang disediakan obat. Sangat jarang kami memberi obat-obatan yang diminumkan kecuali sangat terpaksa. Alhamdulillah, sejauh ini cepat sekali sembuhnya. Mungkin karena dia selalu pakai kaos kaki di rumah. Sepanjang waktu. Hanya dilepas manakala keluar rumah dan ke kamar mandi.
Maafkan Mama
Sabtu, 16 Januari 2010.
Pagi ini saya terlambat berangkat ngantor. Gara-gara Wildan menghalangi terus.
Pertama, saat mau mandi...dia merebut handukq dan segera menaruh di jemuran. Meski sambil tertawa-2 menggoda, saya mengerti Wildan ingin saya tetap di rumah. Tapi apa daya, hari ini harus menguji skripsi. Kedua, Wildan mendorong-2 saya untuk ke tempat tidur. Ada ayahx disitu. Rupanya Wildan mengatur supaya saya dan ayahnya tetap tidur biar masing-masing tidak berangkat kerja. Bahkan untuk meyakinkan kami tidak berangkat, Wildan duduk di kakiq sementara kakinya sendiri ditumangkan ke dada ayahnya.
Wajahnya yang jenaka dan gayanya yang tak berdosa, membuat kami tertawa sumbang. Sisi satu terus terang kami merasa geli dengan tingkah polahnya, namun disisi yang lain kami merasa sangat bersalah seringkali meninggalkan Wildan di rumah. Apalagi sejak dia tidak mau lagi sekolah dan les melukisnya berhenti. Praktis sehari-hari Wildan hanya di rumah sama pembantu. Sementara adiknya datang dari sekolah jam 12.30 WIB. Saya datang jam 16.00 WIB. Begitu pula ayahnya yang bisa seharian di luar rumah.
Akhir-akhir ini, volume pekerjaan saya meningkat. Bercanda dengan Wildan ketika pulang sampai dia tidur jam 21.00 WIB kami kira sudah cukup. Rupanya, bagi Wildan ada sesuatu yang hilang. Dan dengan caranya dia menyibukan diri sendiri. Dan dengan caranya dia mengingatkan kami bahwa dia perlu sesuatu yang lebih. Tidak jarang ketika saya akan bangun pagi, Wildan segera menyelimutiku kembali....mengharap saya kembali tidur yang itu artinya tidak keluar rumah. Kutatap wajahnya dalam-dalam...mencoba menyelami apa yang dirasakan pagi ini.
