Jumat, 22 Januari 2010

Maafkan Mama


Sabtu, 16 Januari 2010.

Pagi ini saya terlambat berangkat ngantor. Gara-gara Wildan menghalangi terus.
Pertama, saat mau mandi...dia merebut handukq dan segera menaruh di jemuran. Meski sambil tertawa-2 menggoda, saya mengerti Wildan ingin saya tetap di rumah. Tapi apa daya, hari ini harus menguji skripsi. Kedua, Wildan mendorong-2 saya untuk ke tempat tidur. Ada ayahx disitu. Rupanya Wildan mengatur supaya saya dan ayahnya tetap tidur biar masing-masing tidak berangkat kerja. Bahkan untuk meyakinkan kami tidak berangkat, Wildan duduk di kakiq sementara kakinya sendiri ditumangkan ke dada ayahnya.

Wajahnya yang jenaka dan gayanya yang tak berdosa, membuat kami tertawa sumbang. Sisi satu terus terang kami merasa geli dengan tingkah polahnya, namun disisi yang lain kami merasa sangat bersalah seringkali meninggalkan Wildan di rumah. Apalagi sejak dia tidak mau lagi sekolah dan les melukisnya berhenti. Praktis sehari-hari Wildan hanya di rumah sama pembantu. Sementara adiknya datang dari sekolah jam 12.30 WIB. Saya datang jam 16.00 WIB. Begitu pula ayahnya yang bisa seharian di luar rumah.

Akhir-akhir ini, volume pekerjaan saya meningkat. Bercanda dengan Wildan ketika pulang sampai dia tidur jam 21.00 WIB kami kira sudah cukup. Rupanya, bagi Wildan ada sesuatu yang hilang. Dan dengan caranya dia menyibukan diri sendiri. Dan dengan caranya dia mengingatkan kami bahwa dia perlu sesuatu yang lebih. Tidak jarang ketika saya akan bangun pagi, Wildan segera menyelimutiku kembali....mengharap saya kembali tidur yang itu artinya tidak keluar rumah. Kutatap wajahnya dalam-dalam...mencoba menyelami apa yang dirasakan pagi ini.

Dalam sunyi sapamu,

mata hatimu menakar kasih.

Dalam gerak ceriamu,

batinmu menangis sedih.

Aku yang keterlaluan,

menyangka engkau baik2 saja.

(Maafkan mama, nak)

Jumat, 23 Oktober 2009

Melukis dengan Guru Berhenti

Sedih sekali, sudah sebulan ini Wildan tidak ditemani guru lukisnya lagi. Les privatnya berhenti dengan cara yang kurang menyenangkan.

Awalnya, kami mulai merasa "nelangsa" karena ritme kehadiran sang guru tidak ajeg. Kadang satu minggu tiga kali, kadang sekali, kadang dua kali, kadang sebulan tidak masuk, lalu masuk berturut-turut. Begitupula dengan hari belajarnya. Kadang selasa, rabu, senin, jum'at, sabtu...yah... Memang sih selalu ada rasionalisasi alasan kenapa tidak bisa ajeg. Maklumlah sang guru juga punya kelas di sebuah sekolah selain juga punya banyak kegiatan. Diantaranya adalah jadi juri di event lomba lukis.

Rencana semula les lukisnya adalah minggu pertama sekali, minggu kedua dua kali, minggu ketiga dua kali, dan minggu ke empat satu kali. Tiap hari selasa atau rabu. Setelah beberapa kali jadwal menjadi kacau, saya sampaikan pada sang guru bahwa hal tersebut tidak baik untuk Wildan. Baik berkaitan dengan mood, jg mengacaukan jadwal kami mengajak Wildan untuk bersosialisasi. Kadang kami sudah menjadwal ajak Wildan keluar..eh, gurunya menghubungi hari ini atau besok blio akan datang. Begitulah, akhirnya kami putuskan Wildan istirahat dulu les lukis karena sepertinya dia hanya diberi jadwal ketika sang guru tidak ada jadwal di tempat lain.

Bila Wildan Bermain Zuma

Zuma Game sangat disukai oleh Wildan. Seharian dia bisa betah memainkannya. Setiap buka Zuma, nampak target Wildan adalah memainkannya sampai pada semua level. Kalau tidak salah 12 level. Jadi, sudah pasti komputer di rumah akan selalu di bawah "kekuasaanya" penuh. Sudah berkali-kali dia "katam". Kami heran dengan caranya bermain yang sangat cepat dan berusaha mengejar bonus karena berhasil mencapai COMBO. Dia menyusun strategi bola-bola bisa lepas dengan berantai. Cara menyusun strateginya unik dan cerdas, sehingga pencapaian skor di setiap level begitu tinggi.

Namun, akhir-akhir ini ada kebiasaan Wildan yang menjengkelkanku berkaitan dengan permainan Zumanya. Apabila sudah pada level ke 9 dst. dia akan menarik saya utk memperhatikan dia bermain. Tahu khan, pada level itu gerakan bola-bola sudah cepat bahkan sangat cepat. Nah, biasanya sy akan ikut deg-deg-an apabila bola tertelan dalam "goa". (bukan apa-apa, sebab tidak jarang Wildan akan menangis bila bola tertelan. Suaranya itu lho bikin risih). Agaknya Wildan menikmati ketegangan saya. Dengan ketawa-ketiwi dia sengaja tidak segera mengakhiri permainan. Caranya, bola dibuang selang-seling terus sehingga tidak ada habis-habis. Sudah begitu cara melemparnya sambil memandang ke arah lain, atau sambil melirik saya dengan jenaka. Kadang malah dengan menumpangkan kakix di meja bergaya "alah..keciiil...sebodo ah", begitu perasaanku membaca gayanya.
Pokoknya gemeeeeezzz....

Sabtu, 05 Juli 2008

Gambar Optis Komputer



Sejak sore tadi, Wildan ngotot sekali minta gambar ini diposting ke blog-nya. Kuamati dengan mengabaikan goresan wajah, gambar ini nampak seperti bola api, namun dia arsir separonya dengan simetris. Lalu ditambahi dengan goresan wajah dengan garis biru ditepinya.


Masih banyak gambar-gambar optiknya lewat komputer. Saat ini saya up load dua gambar saja. Gambar kedua bila diamati nampak seperti manusia dengan bayangannya. Lihat caranya memberi irisan warna biru dan kuning yang simetris.



Selasa, 24 Juni 2008

Pelajaran Saat Listrik Padam Bagi Wildan

Setiap hari senin, kami selalu berdebar-debar. Sudah empat senin terakhir ini di desa kami mendapat giliran pemadaman listrik oleh PLN. Bisa dibayangkan, bagaimana kebijakan itu semakin menyusahkan kami yang harus melihat gelisah dan amarah Wildan saat di rumah lampu dan segala barang elektronik tidak bisa difungsikan.

Sudah menjadi kebiasaan Wildan ‘berteman’ dengan televisi. Perilaku yang katanya sangat salah, tetapi kami tidak bisa merubahnya untuk Wildan. Di rumah kami, selama Wildan terjaga, televisi selalu hidup dengan tayangan dari stasiun tertentu yang dipilih Wildan. Jangan coba-coba merubah channel, apalagi mematikan televisi. Walau sekarang Wildan tidak marah-marah lagi, namun perubahan itu akan membuatnya tidak suka dan dia akan segera mengembalikan ke channel semula. Atau Wildan akan segera menghidupkan televisi kembali, walau dia tidak harus menonton apapun darinya.

Kembali ke soal listrik…..

Tiga hari senin berturut-turut, listrik padam pada sore-malam. Sudah bisa dipatikan Wildan akan menangis sepanjang listrik padam. Senin malam minggu lalu, listrik padam Wildan mulai rewel dan marah. Kami nyalakan banyak lilin di rumah, tidak juga meredakan marahnya. Lalu kuajak dia keliling mencari daerah yang tidak mendapat giliran dipadamkan. Rupanya desa sebelah, yaitu Jetak Lor gilirannya pada hari selasa. Maka, kuajak dia berkunjung ke desa tersebut. Kebetulan kami masih berhubungan baik dengan ibu kost yang dulu kami tempati rumahnya. Dua jam kami disana. Saat kuajak kembali ke desa kami, ternyata listrik masih dipadamkan. Akhirnya, kuajak Wildan ke warung yang ramai dimana kami harus antre untuk mendapatkan nasi goreng tiga bungkus. Tujuannya adalah mengulur waktu. Begitu listrik dinyalakan…..kami segera meluncur pulang…waktu menunjukkan jam 21-an.

Hari ini tadi, pagi…listrik sudah padam sekitar jam 07.30 WIB. Bersamaan dengan padamnya televisi, saat itu juga Wildan langsung nampak panik. Begitu sadar listrik padam, Wildan mulai menangis bercucuran air mata dan memintaku untuk memeriksa meteran listrik. Diriku yang sudah siap berangkat kerja terpaksa menahan diri. Di rumah hanya ada kami bertiga; Aku, Wildan, dan asisten rumah tangga. Rasanya tidak mungkin aku bisa pergi melihat Wildan mulai memukul-mukulkan kakinya ke lantai. Tidak jarang perilakunya itu membuat kakinya lecet-lecet dan harus di tensoplast. Sekitar satu jam Wildan dalam kondisi seperti itu dengan usahaku mencegah supaya kakinya tidak dibentur-benturkan. Padahal listrik akan padam minimal empat jam!. Kubilang apapun tidak didengar oleh Wildan.

Ditengah putus asa, kuputuskan untuk mengajak Wildan bicara panjang lebar terserah dia mengerti atau tidak:

Wildan..stop menangis!. Sekarang dengarkan mama.
Listrik ini akan padam selama empat jam.
Lihat jam ini (sambil kusodorkan jam dinding).
Nanti listrik akan menyala lagi jika jarum pendek ini di angka 12 sini!.
Wildan harus mengerti ini kebijakan PLN karena PLN kekurangan daya
akibat warga Negara selama ini tidak bisa hemat energi.
Seperti Wildan itu yang menghidupkan televisi 24 jam!.
Pemerintah marah, menteri energi pusing, PLN gak berdaya.
Jadi Wildan harus mengerti.
Tidak usah menagis, nanti akan jadi bahan tertawaan orang”.

Aku diam sebentar melihat reaksinya. Selama aku nyerocos dengan keras itu, dia membelakangiku, namun dia diam saja. Saat akan menangis lagi, segera kutimpali….


“ Hayo..menangis lagi…biar Wildan diketawain orang
karena tidak juga mengerti.
Makanya, kamu juga harus ikut memberi solusi Negara
atas krisis energi ini, jangan hanya bisa menangis…”

Aku tidak peduli, dia mengerti atau tidak. Tapi….wildan hanya diam saja. Lalu dia renahkan kepalanya dipangkuanku.


“ Kalo wildan mau kegiatan,
silahkan pakai laptop mama dan buatlah gambar.
Namun satu jam lagi laptop juga mati karena kehabisan daya”.


Wildan berdiri..dan dia mengambil bukunya, lalu menuju teras. Dia duduk di sana sendirian. Aku tidak berani menyapanya, takut hanya mengingatkannya soal listrik yang padam. Akupun ke kamar. Membaca buku. Sesekali kutengok Wildan yang masih diteras melamun. Oh…kasihannya anakku ….. aku tidak jadi kerja setelah kukirim pesan-pesan pada para mahasiswa. Semoga mereka mengerti kesulitanku, walau terkesan tidak professional. Bissmillah….

Setengah jam kemudian, Wildan beringsut ke halaman dan menit berikutnya mulai enjoy mengamati para tukang yang sedang membangun rumah di depan rumah kami. Kira-kira satu jam Wildan di luar, dia masuk rumah dan menghampiriku. Ditangannya ada sebuah lilin dan korek. Aku nanar memandang anakku. Oh, dia tidak juga mengerti, namun dia belajar bahwa apabila listrik padam maka perlu menyalakan lilin. Kupeluk dia….dan kunyalakan lilinnya. Kuajak dia ke kamar dan kuminta menutup jendela dan pintu kamar, biar lilin nampak benar peruntukannya. Wildan pun puas. Lalu dia keluar lagi, kembali mengamati tukang-tukang bangunan bekerja.
Akupun bersiap-siap kembali untuk berangkat kerja. Jam 11 saat aku sudah siap, kupanggil Wildan. Kubilang,


Wildan, mama kerja. Tidak boleh menangis soal listrik yang padam.
Insya Allah jam 12 sudah nyala kembali dan Wildan boleh main computer”. Diapun tersenyum.
"Sekarang kalau mau main di luar, ambil topi. Tidak boleh jauh-jauh”.

Saat berangkat, aku tidak menoleh lagi kebelakang sampai kantor. Aku percaya, Wildan bisa mencerna kata-kataku yang putus asa tadi dan dia sudah mendapatkan keasyikan tersendiri dengan tidak menggantungkan diri pada pemadaman listrik oleh PLN. Semoga kelak dia menemukan energi listrik pengganti sehingga tidak usah menggunakan jasa PLN yang sudah lama memonopoli di negeri ini.

Rabu, 11 Juni 2008

Dia Nampak senang apabila Kami Mengapresiasi Lukisannya



Sejenak, aku tak menyambut kedatangan Wildan sepulang les lukis minggu lalu. Tidak seperti biasanya memang. Biasanya sepulang les, dia selalu kuberondong dengan pertanyaan-pertanyaan walau tidak juga dijawab. Tapi hari itu aku malah sibuk dengan laptop mengumpulkan tulisan-tulisan dari situs Dewan Pers.

Sikapku itu baru kusadari setelah Wildan mondar-mandir dengan membawa gulungan kertas plano. Seperti biasa..mondar-mandir tanpa suara. Merasa agak terusik karena hadirnya sensasi gerakan Wildan, aku nyelutuk, “Wildan, ngapain yak ok jalaaaan saja. Ayo duduk..”. Ternyata adiknya yang menyahut,”Kakak lho ma ingin lukisannya dilihat”. Wow….akupun terhenyak…oh benar, dia memegang lukisannya yang baru!. Oh, anakku..maafkan ibumu ini…segera kuhampiri Wildan,”Oh..itu lukisan Wildan yang baru yaa..Lihat dong..". Wildanpun menyodorkan lukisannya yang masih tergulung. Kubeber lukisan besarnya seukuran penuh satu plano di lantai, dia tertawa meloncat-loncat dan kemudian bersamaku duduk di lantai melihat lukisannya. Lukisan manusia dalam garis-garis, dengan background warna coklat tanah. Manusia-manusia yang berjumlah 6 orang dalam bentuk nyaris garpu dan sendok itu kurasakan sebagai lukisannya yang paling original. Hati kecilku berbisik, lukisan kali ini khas coretan-coretannya saat di rumah.

Peristiwa hari itu membuat mengingat-ingat perubahan yang terjadi pada diri Wildan. Akhir-akhir ini Wildan nampak sangat senang apabila aku "pamerkan" pada setiap tamu yang datang dan bertanya tentang lukisan Wildan. Biasanya lukisannya akan ku beber di lantai. Maklumlah, hingga saat ini kami belum juga membingkai lukisan-lukisan Wildan. Padahal, tentu akan semakin membuatnya semangat, senang, dan terinspirasi apabila kami membingkai dan memasangnya di tembok-tembok rumah.....Maafkan kami pelukisku...

Jumat, 02 Mei 2008

Lukisan-lukisan Wildan




Mulai hari ini saya akan berusaha melampirkan lukisan Wildan setiap kali posting. Ini lukisan Wildan dengan menggunakan Pastel di atas Kertas ukuran 50 X 60 cm. Sampai dengan hari ini lukisan kertasnya yang telah kami simpan ada sekitar 25 lembar, dengan berbagai ukuran. Mulai dari A3 sampai dengan ukuran 100 cm X 100 cm.
Selanjutnya kami akan mengarahkan Wildan untuk melukis diatas kanvas dengan cat. Memang tujuan kami adalah mempublikasikan karya Wildan, untuk menunjukkan bahwa anak autis memiliki peluang kemampuan seperti halnya anak "normal" pada umumnya. Kami ingin pada suatu saat Wildan akan mengadakan " pameran tunggal lukisan " dengan karya-karyanya yang luar biasa (bagi kami, orang disekitar Wildan) !!

Kami berharap siapapun yang membaca blog ini bisa terinspirasi dengan karya-karya Wildan. Bahwa dengan segala keterbatasannya, anak autispun bisa berprestasi !