Kamis, 22 Maret 2012
Kuliah Perdana
Apakah pengalaman hari ini sungguh berarti?. YA. Hari ini saya merasa bersyukur karena Wildan bisa kendalikan diri dengan tidak banyak jalan-jalan di kampus. Dua jam lebih duduk manis merupakan hal yang luar biasa bagi anak autis seperti Wildan. Pada kelas kedua, Wildan tidak saya ajak masuk. Dia bisa mencari kesibukan sendiri. Biasanya akan masuk kantor-kantor yang ada. Terutama di Jurusan Bahasa Inggris, TU FKIP, Jurusan Ilmu Pemerintahan, Lab.Drama, dan Jurusan Matematika. Sehabis kelas kedua, Wildan saya ajak ke MAN untuk daftar ulang adik sebagai calon siswa baru di sana. Saat mengisi formulir-pembayaran, dan sampai menyerahkan kembali formulir, Wildan selalu duduk manis di sebelah saya. Begitu pula ketika saya kembali ke kampus dan berbincang-bincang 30 menit di kantor ACICIS di lantai IV yang penuh foto pariwisata & budaya Indonesia, Wildan duduk tenang di sofa. Lalu kami naik ke lantai VI untuk menerima bimbingan skripsi selama hampir dua jam, Wildan tetap duduk di samping saya.
Saya juga bersyukur karena civitas academica sangat pengertian. Mahasiswa di kelas tadi juga sangat bisa menerima kehadiran Wildan. Bahkan saat Wildan bersin, beberapa mahasiswa berinisiatif memberikan tissue. Saat kami antre di depan pintu lift mau pulang, segerombolan mahasiswa PGSD bertanya, "Apakah masnya ini putra ibu?.". Kujawab, IYA. Sambil penuh pengertian mahasiswa itu cerita, "Saya pernah dielus-elus pipi saya bu. Awalnya saya kaget...tapi kemudian saya mengerti masnya ABK." Lebih serem lagi yang mahasiswi, "Kalau saya pernah bu, masuk toilet...masnya buka pintunya hahaha..". Saya jadi merasa tidak enak dan meminta maaf. Namun mereka rupanya sudah familier dengan ABK. Kami jadi tertawa bersama membayangkan kekagetan-kekagetan karena kehadiran Wildan di kampus.
Namun, pernah juga saya mengalami hal yang sangat tidak mengenakkan. Suatu ketika, masuk seorang mahasiswa sambil menahan marah ke ruangan saya, "Maaf bu...anak itu putra ibu ya?." Demi melihatnya dia nampak emosi, saya jawab, "Iya mas...aduh..anak saya bikin ulah ya?." Si mahasiswa melanjutkan sambil terengah-engah, "Begini bu...saya dan kawan-kawan hampir saja menempeleng anak ibu." Prempeng! kurasa wajahku langsung merah, (saya) "Kenapa pasalnya mas? anak saya menyakiti kalian?.". Dijelaskanlah oleh mahasiswa, "Ini sudah bukan pertama kali bu. beberapa hari yang lalu anak ibu juga melakukannya. Dia meludah dari lantai enam, ludahnya meluncur ke lantai empat dimana kami sedang duduk-duduk sehingga terciprati.". ......(Saya) "Aduh maaf mas, Bagi dia mungkin ludah yang meluncur dan berbeluk itu amazing. Tapi itu salah saya karena tidak bisa mengawasinya sepanjang waktu. Maaf ya." Saya tahu, penjelasan saya tidak memuaskan. "Iya bu, tapi mestinya bisa diberitahu."......(saya), "Tidak bisa mas. Saya memerlukan waktu untuk menjelaskan pada anak saya.".....Mahasiswa ini masih juga nampak marah, "Itu bisa bu..saya juga mengerti kok dengan anak semacam itu.".....(saya)" Begini saja mas. Sambil saya mengajari anak saya merubah perilaku meludahnya itu, tolong mas dan teman-teman yang tidak autis jangan duduk dulu di kursi lobi lantai IV ya." hahaha.. ini lebih pada defensif seorang ibu kali yaaa karena betul juga mas itu. Saat itu juga saya beritahu Wildan tidak boleh meludah ke lantai di bawah. Beberapa kali saya peragakan larangan meludah itu. Sejak hari itu, Wildan tidak lagi meludah. Mungkin dia baru tahu, bahwa itu tidak boleh.
Semakin hari, pengendalian diri Wildan menunjukkan perkembangan yang baik. Mungkin karena kami sering membawanya ke tempat-tempat umum. Ayah paling sering mengajak Wildan perjalanan kuliner saat mereka berdua maupun berempat bersama saya dan adik. Bahkan selasa (20/3) lalu ayah berinisiatif untuk membersihkan wajah Wildan dengan facial wajah. Soalnya wajahnya mulai banyak jerawat batu. Tidak terbayang seperti apa reaksi Wildan. Cerita ayah, mula-mula Wildan teriak-teriak saat komedonya diangkat. Sampai-sampai yang punya salon di sms para tetangga untuk memastikan tidak terjadi hal-hal bahaya.hehe...Tapi lama-lama Wildan sepeth menikmati facial, meski kadang masih teriak. Dia mulai enjoy saat mulai dimasker. Dan berkali-kali mengaca setelah semuanya beres dan wajahnya kinclong hihihi.... Semoga ayah tidak membuatnya jadi cowok metrosexual :).
Senin, 26 Desember 2011
Apa sih Autis itu?
Seperti pertanyaan ini, “Bagaimana sih anak autis itu?.”. Nah, ini khan pertanyaan yang intepretasinya sangat luas. Menghadapi pertanyaan seperti ini, kami memiliki kesimpulan jika orang tersebut pasti masih sangat awam. Itu artinya jawabannya tidak perlu terlalu luas dan mendalam hehehe... bukan apa-apa,tuwas habisin waktu dan abab hahaha...ya maaf.
Terhadap pertanyaan itu, saya biasanya akan berikan jawaban sederhana secara umum dan beberapa contoh perilaku si Wildan. Seperti ini:
“Anak yang menyandang autisme, paling menyolok bisa dilihat dari penghindaranya pada kontak mata dengan orang lain, perilakunya yang ritual atau berulang-ulang, serta sangat kentara berorientasi pada dirinya sendiri.”.
Masih belum jelas?.
“Penghindaran kontak mata, bahasa lainnya adalah dia tidak mau menatap mata orang lain termasuk yang sedang mengajaknya bicara. Dia bisa menunduk, melengos, atau melihat hal lain. Meskipun nampaknya mendengarkan atau menyimak pembicaraan.”
Nah, mulai bisa bayangkan bukan?.
“Perilakunya yang ritual atau berulang-ulang, maksudnya adalah dia memiliki pola tetap dalam berinteraksi dengan objek. Memperlakukan objek dengan pola yang sama berulang-ulang. Misalnya, kalau mau makan sesuatu, dia harus mencium (membau) makanan tersebut, maka itu akan dilakukan setiap kali mau makan. Kalau bertemu anda dia cium pipi...maka setiap bertemu dengan anda itu cium pipi menjadi ritual. Sesuatu yang harus terjadi. Hmmm....berarti Tukul pernah juga autis karena selalu ada ritual cipika cipiki dengan bintang tamunya hahaha.”
Saya pernah tuliskan perilaku ritual Wildan dalam suatu tulisan di blog ini. Sekitar tahun 2008. Coba deh dibuka-buka gitu
“Terakhir, perilaku yang berorientasi pada diri sendiri. Begini, contoh pada Wildan. Dulu kami mengajari Wildan supaya kalau bangun tidur segera melipat selimut, dan merapikan bantal dengan cara ditumpuk. Selimut dan bantalnya sendiri sih. Lalu selimut dan bantal itu harus diletakkan pada tempat yang semestinya...walah..maksudnya, selimut di ujung bawah kasur dan bantal di atas kasur..eh, maksudnya selimut di tempat bawah kaki, bantal di tempat kepala (hihihi..sama-sama ngerti khan maksud saya?.). Begitulah akhirnya yang terjadi di rumah kami setiap pagi. Wildan paling rajin bangun pagi. Cenderung lebih sering bangun pagi dibanding makhluk lain di rumah kami. Seperti yang dia ingat dari pelajaran kami, Wildan segera melipat selimut dan menumpuk bantal (ini juga bisa dianggap dengan salah satu ritual). Tapiiiii.....ini perilaku autisnya: dia tidak peduli apakah tempat bantal itu masih ada orangnya apa tidak!. Meskipun adiknya masih tidur, Wildan akan menumpuk bantalnya....meski harus dikepala adiknya! Hahaha...Begitupula seandainya adik tidurnya melorot sampai sisi bawah, Wildan juga akan meletakkan lipatan selimut menutupi tubuh sang adik!. Kadang adik kaget dan tergopoh-gopoh bangun karena kepalanya ditekan-tekan tumpukan bantal oleh Wildan jika bantalnya menumpuk kurang rapi. Seperti apa ekspresi Wildan saat melakukan itu?. No problemo...dia tidak nampak marah/terganggu, juga tidak nampak bersalah....biasa saja seolah memang begitulah yang seharusnya.”
Kalau ingat-ingat itu, saya bisa tertawa terusss. Apalagi kalau ingat ekpresi Wildan yang “tak berdosa" sementara adik tergopoh-gopoh mengira ada gempa kaliiiii” hahahaha.
Begitupula bila giliran Wildan mengelap meja kursi. Bila sudah tiba waktunya bersihkan kursi, meskipun ada yang sedang duduk di kursi tersebut, Wildan tetap akan mengelapnya. Walau andai harus menarik bantalan kursi untuk mengelap dibaliknya, dia akan tarik bantalan tersebut walau ada yang sedang duduk!. Dan..tetap dengan ekspresi no problemo-nya. Mungkin dalam pikiran Wildan adalah “yang penting urusanku segera beres.”. itulah yang saya maksud dengan berorientasi pada diri sendiri.
Semoga kita bukan termasuk orang yang berorientasi pada diri sendiri karena kita tidak menyandang autis, bukan?.
Minggu, 04 Desember 2011
Berelasi dengan Televisi


Soal penyandang autis sangat suka dengan televisi, bukan isapan jempol. Seperti kebiasaan Wildan selama ini. Setiap hari, selama dia di rumah....televisi (TV) tidak pernah mati. Bahkan pada saat dia tidur. Betapa tidak, saat Wildan tidur....kami matikan TV, dia akan segera bangun lalu TV di "nyalakan"...lalu dia tidur lagi. Dahulu, malah matinya TV membuat Wildan terbangun dari tidur hingga malam esok hari alias tidak tidur lagi alias begadang!.
Alhamdulillah setelah berusia 14 tahun, akhirnya saat dia tidur TV bisa kami istirahatkan. Walaupun bila dia terjaga, tetap langsung nyalakan TV lagi. Namun terjaganya itu seperti bukan karena TV mati. Berbeda dengan masa-masa sebelumnya.
Ada perilaku unik antara Wildan dan TV.
Pertama, dia bisa menggambar semua logo TV sejak usia 8 tahun dengan cara mengingat. Meskipun tidak tepat betul, tapi gambarnya bisa dipahami.





Kedua, dia sangat-sangat menyukai lagu-lagu nasional yang digunakan beberapa stasiun TV untuk opening dan closing. Bahkan lagu Rayuan Pulau Kelapa di TV mampu membuat Wildan mewek alias menangis bercucuran air mata. Sampai saat ini di usia 15 tahun, Wildan kadang masih menangis saat mendengar dan atau sambil menirukan menyanyi lagu itu.
Ketiga, dia memiliki stasiun favorit yang tidak bisa diganti oleh orang lain kecuali oleh adeknya. Kalau adek yang ganti channel, Wildan cenderung diam ataudia akan meminta orang lain yang menggeser channel. Tapiiiii.....kalau selain adek, walah...lanfsung deh dia rebut remote dan pindah ke stasiun favorit.

Keempat, sebenarnya dengan kebiasaan pertama, kedua, dan ketiga itu.... Wildan nampak tidak benar-benar menikmati tayangan TV-nya kok. Lha wong dia tuh jalan-jalan mulu di rumah. Andai duduk di depan TV juga matanya tidak melihat layar, namun sambil laptop-an atau sambil nggambar, sambil ngemil, dsb. Sesekali saja dalam hitungan detik, matanya menatap layar TV, senyum atau tertawa atau cuma ngowoh entah apa yang dipikirkan sambil memandang layar TV. Tetapi heran....bisa jadi Wildan sebenarnya memperhatikan juga. Buktinya, saya menemukan dua gambar yang mengindikasikan acara masak memasak semacam Master Chef. Oalah...ingin sekali mama mengerti apa yang sedang kamu pikirkan, nak.
Senin, 07 November 2011
Misteri Rumah Bagi Si Dia
Andaikan kami bisa memaksanya masuk rumah dengan beberapa alasan, dia akan masuk dengan menangis sepanjang tinggal di dalam. Berkali-kali akan terisak sambil bilang, “ulang..ulang.. .(Pulang...pulang).” Segala rayuan yang paling mautpun membuatnya bergeming ingin pulang. Sering Eyang Teu merayunya dengan memberinya kue atau makanan, Wildan akan menerima kue atau makanan tersebut...dengan menangis, kue dan makanan itu cepat-cepat dihabiskan supaya dia punya alasan minta pulang!.
Satu-satunya yang bisa sedikit menahannya adalah bila diminta siram-2 rumput di halaman depan. Itupun kami harus sering-sering ingatkan sebab Wildan suka membelokkan air selang ke halaman tetatngga sebelah atau pada pohon-pohon pinggir jalan yang dibawahnya terdapat modil parkir. Ribet banget deh kalau sudah acara berkunjung ke Eyang Teu.
Memang aneh respon Wildan pada rumah-rumah tertentu dan pada masa tertentu. Ada rumah yang Wildan sangat tidak mau masuk. Ada rumah yang Wildan mau masuk tapi sebentar saja. Dan ada rumah yang Wildan nampak merasa enjoy banget. Sampai sekarang kami belum menemukan faktor-faktor apa yang menyebabkan respon positif dan negatif tersebut.
Dahulu kala (..ketika matahari terbit dari timur), Wildan kecil tidak mau masuk rumah Mbah Buk (Buliknya Mama) di Desa Sidomulyo. Rumahnya besaaar dengan halaman depan, samping dan belakang yang luas. Bila disana, Wildan hanya mau masuk rumah bagian belakang (ruang makan dan dapur) lewat halaman samping. Jikalau dia sempat mau masuk ke ruang dalam, maka dia akan dengan takut-takut menoleh ke ruang keluarga samping sambil matanya melirik-lirik gambar-gambar yang terpaku di dinding dengan ekspresi ketakutan. Terutama gambar kaligrafi, pas photo presiden dan wakil presiden. Belum sempat kita memastikan sebab dia tidak mau masuk ruangan itu, beberapa tahun kemudian dia mau masuk ruang itu dan terlihat enjoy. Yaitu saat ruangan tersebut diganti cat dindingnya dari hijau ke abu2 terang dan digantinya kursi ukiran dengan sofa. Sementara itu satu-satunya kamar tidur yang pernah dia masuk, adalah kamar tidur tante Ulfa yang banyak bonekanya!. Disana Wildan bisa tidur-tiduran santai sambil “menthil” ujung bantal hahaha.
Pada masa-masa itu, bertamu atau berkunjung ke rumah orang lain selalu diawali dengan kekhawatiran, “Wildan mau masuk apa enggak yaaa.”.
Kalau pas dia suka atau enjoy...waduh, bisa juga bikin kewalahan neh. Adalah rumahnya Mbah Dok (Mbah Wedok=mbah putri), orang tuanya Bude Shinta sahabat kami di Areng-Areng (satu dusun dengan kami saat ini). Sekitar tahun 2008-2009 merupakan rumah idola bagi Wildan. Sehari saja kami tidak antar dia kesana.....dia akan rewel dan maksa-maksa kesana. Di rumah Mbak Dok, Wildan keranjingan nge-game di komputer pakde Gun dan makan masakan Mbah Dok, terutama saat itu selalu disediakan nasi panas dari majic jar. Maklum deh tahun2 itu saya belum punya majic jar hahaha...karena kami lebih suka makan dengan nasi dingin #ngeles.com. Akhirnya saya beli majic itu karena sejak Wildan suka ke rumah Mbah Dok, kalau di rumah sendiri mau makan, Wildan panasi dulu nasi di panci!. Kembali ke ruma Mbah Dok. Selain nge Game dan makan, Wildan bisa juga tidur-tiduran di kasurnya mas Ardha. Rumah Mbah Dok ini ciri khasnya memiliki ruang tamu yang luas, yang digabung dengan ruang nonton TV dengan pembatas bufet saja. Di ruang itulah Wildan menghabiskan waktu dengan bahagia sejahtera.
Pada tahun yang sama dengan kesukaannya di rumah Mbah Dok, sebaliknya Wildan sangat antipati masuk rumah Eyang Ti (nenek) di Desa Sidomulyo. Padahal di rumah ibu saya itu Wildan lahir dan hingga usia 2 tahun tinggal. Hingga dia usia 11 tahun, tidak pernah ada masalah bila diajak ke rumah Eyang Ti. Entahlah, pada 2008 itu Wildan akan menangis bila diajak masuk. Saat lebaran maupun acara-acara keluarga, kami jadi tidak bisa ikut dengan enak karena Wildan hanya mau masuk untuk salaman...trus menangis minta keluar dan tidak bisa kembali lagi. Naun juga tidak disangka-sangka pada tahun 2010, sebaliknya Wildan malah tidak mau pulang ke Areng-2.....minta tinggal di rumah Eyang Ti (bahkan sampai 16 bulan di sana). Ada banyak cerita tentang keberadaannya di rumah Eyang Ti yang telah saya tulis di blog ini. Rumah Yang Ti memiliki ruang tamu yang luas, ruang keluarga yang ngerong (seperti di bawah tanah) dan diatas ruang keluarga adalah kamar tidur masa remaja saya. Pokoknya ruang-ruangnya naik turun deh.
Nah, kami menduga-duga...Wildan akan tidak suka dengan rumah sbb:
1. Terlalu banyak barang, atau
2. Tidak ada majalah sama sekali, atau
3. Nampak suram, atau
4. Agak mistis, atau
5. Tidak ada Televisi, atau
6. Ada banyak kaligrafi, atau
7. Dan masih kami pikir2 yang lainnya
Wildan lebih suka rumah sbb:
1. Sedikit barang, atau
2. Banyak majalah, atau
3. Terang benderang, atau
4. Televisinya dinyalakan, atau
5. Lebih banyak foto/lukisan, atau
6. Selalu ada kue-kue, atau
7. Ada bantal yang banyak, atau
8. Memiliki komputer yang tidak rusak, atau
9. Dsb.
Saya tulis “atau” karena aslinya kamipun masih belum bisa pastikan hehehe.
Jumat, 16 September 2011
Cabut Uban
Apa siiiiih?
Cari uban!. Nah lho. Wildan paling teliti dan serius kalau sudah cari uban di kepala dan jenggot Ayah. Malah sudah bisa dibilang kecanduan. Begitupula dengan sang Ayah, sehari saja tidak dicabuti ubanya oleh Wildan juga nampak “limbung” hihihihi. Mama pikir-pikir, kegiatan tersebut banyak manfaatnya juga bagi autisme Wildan. Antara lain, melatih kesabaran Wildan, melatih motorik halus Wildan, juga sebagai “teraphy” pusing bagi Ayah hahaha.
Lucu-lucu kisah cabut uban oleh Wildan. Selain ayah, biasanya eyang Teu juga menjadi langganan Wildan. Mereka minta Wildan harus cari yang pendek dan sudah putih. Katanya uban yang seperti itu, bikin guatel. Nah, kalau Wildan berhasil cabut uban yang pendek, dia akan tunjukkan pada ayah atau eyang Teu. Dikumpulkan di tangan beliau. Tapiiii....kalau yang tercabut adalah uban panjang, Wildan akan cepat-cepat membuangnya...hehehe....kalau yang tercabut rambut putih yang ujungnya masih hitam, segera Wilan memotongnya: yang putih ditunjukkan sementara yang hitam cepat-cepat dibuang hahaha...takut dimarahi juga rupanya!.
Hasrat Wildan untuk cabut uban, kadangkala kelewat semangat. Bila ada tamu berambut uban, waduh...kami kewalahan juga menekan keinginan Wildan mencabutinya. Iya kalau tamunya berkenan, kalau tidak khan berabe!. Tamu-tamu yang sudah dekat dengan kami sih kebanyakan maklum. Bahkan malah nawarin Wildan. Tidak jarang para tamu jadi terkantuk-kantuk keenakan dicabuti ubannya oleh Wildan. Bagi yang baru tahu, hati-hati... kalau anda yang beruban kerumah kami, siap-siap melihat Wildan mondar-mandir dengan pinset di tangan. Siap memangsa kepala anda hahaha.
Barangkali, rambut putih membawa sensasi tersendiri bagi Wildan. Suatu ketika kami curiga, kenapa Wildan sembuyi-sembunyi bawa piring kecil isi makanan ke teras. Setelah kami intip, rupanya Wildan lagi asyik cabuti bulu kucing!!!!. Kucing tersebut warna putih. Nah lho...di badan bagian sampingnya sudah botak. Trik Wildan, kucing tersebut diberi makan. Saat makan dengan aman sentosa dia bebas cabuti buku kucing itu. Heran, kucingnya kok ya mauuuuu..meooong.

Kalau kami ajak ke pasar, Wildan juga gatal ingin cabut bulu yang masih ada di daging ayam!. Terutama yang bercokol di sekitar “brutu” dan sayap ayam. Biasanya daerah tersebut memang agak susah dan sering kurang bersih dicabuti oleh para penjual daging ayam. Setiap kali lewat penjual ayam potong, Wildan menunjuk..”Ik..ik..”. tentu saja kularang. Tapi sesekali kuajak berhenti dan dia akan menyempatkan cabut satu dua bulu.
Kupikir-pikir lagi.....apa di rumah kupasang plang “Terima Cabut Uban dan Bulu Putih, Ongkos Rp. 50.000 perjam” yaaaa?????.
Sabtu, 13 Agustus 2011
Hikmah Bulan Romadhon
Alhamdulillah, sudah 10 malam Wildan di rumah Areng-areng lagi. Tepatnya sejak nenek harus opname di rumah sakit, kamis 4 agustus 2011. Hari pertama puasa romadhon, Wildan dan nenek tidur areng2 tapi senin 1 agustus saat nenek harus pulang, Wildan ikut lagi ke Sidomulyo. Kamis usai taraweh, kami ke Sidomulyo mendapati nenek yg sedang menggigil sakit di kamar Wildan. Mereka hanya berdua. Kami panggilkan dokter, katanya hanya masuk angin. Lalu nenek dan Wildan kami bawa ke rumah Areng2 supaya mudah merawatnya. Hingga jam 23-an nenek semakin panas. Akhirnya kami bawa ke rumah sakit dan harus opname hingga Minggu. Selama itu saya nungguin nenek. Praktis Wildan harus di rumah Areng2 dengan ayah dan adiknya.
Ternyata Wildan sangat mengerti. Begitu diajak nengok nenek di rumah sakit, Wildan melihat sendiri bahwa nenek tidak mungkin pulang dengannya. Dipijitnya kaki nenek. Diperiksa selang infus. Lalu lihat tangan neneknya. Saat harus pulang bezoek, Wildan juga mau salim sama nenek. Kata ayah, di rumah Wildan juga tidak rewel. Minggu nenek pulang dari rumah sakit dan Selasa nenek pulang ke rumah Sidomulyo, Wildan juga tidak rewel diajak pulang lagi ke Areng2. Sampai saat ini. Apalagi Rabu nenek juga kembali kami jemput ke Areng2. Hari ini, Minggu 14 Agustus nenek akan pulang lagi ke Sidomulyo. Semoga Wildan tidak minta pulang ke Sdomulyo lagi.
Selama di rumah areng-2, Wildan punya kegiatan tetap: menyiram bunga di taman depan maupun di taman samping. Setiap waktu dia inginkan hehe. Sehari bisa empat kali dia menyiram bunga. Selain itu, dia dengan tertib akan cek apakah handuk adik sudah dijemur, piring2 sudah dicuci atau belum, dan selalu buka gembok pintu pagar sebelum adiknya berangkat sekolah. Lalu Wildan akan ikut saya antar adik sekolah dan dilanjutkan dengan belanja.
Rutinitas kami di bulan puasa Romadhon ini rupanya juga diamati oleh Wildan. Sudah empat hari ini Wildan ikut puasa!. Saat sahur dia ikut bangun dan makan. Lalu sepanjang hari dia tidak makan dan minum lagi hingga tiba berbuka. Mula-mula kami mengira Wildan tidak berselera dengan nasi yang kurang lembek (dia suka nasi lembek. Dan kadangkala menangis kalo nasi agak keras). Namun, saat saya sediakan juga nasi lembek..ternyata memang benar dia juga tidak tertarik. Rupanya Wildan ingin juga puasa!. Alhamdulillah.....walau kami tidak tega sebenarnya mengingat selera makannya itu luar biasa. Tapi karena itu keinginannya sendiri, kami mensyukuri betul.
Kami tersenyum geli saat menunggu adzan magrib. Wildan akan periksa apa yang terhidang. Begitu adzan tiba, sama dengan yang lain...Wildan akan ikut menyerbu hidangan takjil terlebih dahulu. Lalu dengan tergpoh-gopoh, Wildan segera mengambil nasi dan lauk pauknya. Lahap sekali makannya hingga tuntas. Tidak seperti biasa, selama puasa kalau makan dia tidak pernah nambah. Seolah memberi tahu bahwa dia makan secukupnya.
Ada peristiwa lucu pada hari keempat. Selama puasa, kami tetap menaruh kaleng biskuit di meja makan. Khawatir bila Wildan lapar di siang hari. Namun, selama dia puasa Alhamdulillah tidak tergoda mengambil biskuit tersebut. Begitupula dengan minuman, Wildan tidak minum sama sekali sepanjang hari. Padahal juga biasanya luar biasa banyak minum air putih. Nah, sabtu kemarin....sepulang dari kampus jam 12.30-an (dia dengan suka ria ikut saya ke kampus sejak jam 8 WIB), Wildan buka kaleng biskuit. Tapi dia ambil remah-remahnya saja. Saya pura-pura tidak lihat. Eh, lalu dia buka kaleng biskuit lagi. Pas nenek melihatnya. Nampak Wildan malu. Dia ambil cuma setengah potong sambil tertawa lalu lari keluar ke gazebo dan cepat-cepat memakan biskuit tersebut. Setelah itu dia puasa lagi hingga magrib tiba!.hahaha
Ya Allah...kami sangat bahagia dengan semua ini. Wildan semakin mengerti dan semakin bisa kendalikan diri. Tatapan matanya juga semakin lama. Saat dia “berkomunikasi’, selalu menatap mata orang yang diajak berkomunikasi hingga selesai “pembicaraan”. Ciri utama anak autis adalah menghindari tatap mata dengan orang lain.
Jadi teringat 3 bulan pertama intervensi dilakukan saat Wildan berusia dua tahun. Tiga bulan pertama itu, Wildan hanya diajari dan dipaksa mau kontak mata. Begitu memang metode Lovaas yang diterapkan oleh Cakra Autism Therapy Centre. Tentu saat itu begitu sulit. Wildan mengamuk. Meja dan kursi belajarnya dilempar. Dia mengompol di ruang kelas. Pelatih dilempar botol susu. Teriak. Menangis, dan membangkang luar biasa. Segala macam prompt (bantuan) juga nampak sia-sia. Baik model prompt, visual prompt, apalagi phyisic prompt...(aduh! Saat menulis ini Wildan menggelendot dibelakang pundakku, ikut membaca. Bahaya nih, jangan-jangan dia mengerti sedang kutulis hehe. Tapi lanjut saja deh karena dia senyum-senyum sambil sesekali ciumi pipiku).
Saat itu, begitu Wildan mau menatap mata pelatihnya walau hanya satu detik...sudah merupakan pencapaian luar biasa. Dua detik, tiga detik, empat detik...selalu disertai dengan reward untuknya. Tidak terbayangkan saat itu bahwa sekarang dia sudah mau kontak mata sepanjang “berkomunikasi”.
Pada proses intervensi dan eksperimen saya dengan bu Anne (teraphist), akhirnya dikemudian hari kami menemukan bahwa melatih Wildan efektif dengan metode Model Prompt. Itupula barangkali, saat ini tanpa diminta dan diajarkan, Wildan empat hari ini mau berpuasa romadhon. Dia mengamati kami sebagai model dengan rutinitas kami selama puasa ini Subhanallah.
Jumat, 23 Oktober 2009
Bila Wildan Bermain Zuma
Namun, akhir-akhir ini ada kebiasaan Wildan yang menjengkelkanku berkaitan dengan permainan Zumanya. Apabila sudah pada level ke 9 dst. dia akan menarik saya utk memperhatikan dia bermain. Tahu khan, pada level itu gerakan bola-bola sudah cepat bahkan sangat cepat. Nah, biasanya sy akan ikut deg-deg-an apabila bola tertelan dalam "goa". (bukan apa-apa, sebab tidak jarang Wildan akan menangis bila bola tertelan. Suaranya itu lho bikin risih). Agaknya Wildan menikmati ketegangan saya. Dengan ketawa-ketiwi dia sengaja tidak segera mengakhiri permainan. Caranya, bola dibuang selang-seling terus sehingga tidak ada habis-habis. Sudah begitu cara melemparnya sambil memandang ke arah lain, atau sambil melirik saya dengan jenaka. Kadang malah dengan menumpangkan kakix di meja bergaya "alah..keciiil...sebodo ah", begitu perasaanku membaca gayanya.
Pokoknya gemeeeeezzz....
Selasa, 24 Juni 2008
Pelajaran Saat Listrik Padam Bagi Wildan
Sudah menjadi kebiasaan Wildan ‘berteman’ dengan televisi. Perilaku yang katanya sangat salah, tetapi kami tidak bisa merubahnya untuk Wildan. Di rumah kami, selama Wildan terjaga, televisi selalu hidup dengan tayangan dari stasiun tertentu yang dipilih Wildan. Jangan coba-coba merubah channel, apalagi mematikan televisi. Walau sekarang Wildan tidak marah-marah lagi, namun perubahan itu akan membuatnya tidak suka dan dia akan segera mengembalikan ke channel semula. Atau Wildan akan segera menghidupkan televisi kembali, walau dia tidak harus menonton apapun darinya.
Kembali ke soal listrik…..
Tiga hari senin berturut-turut, listrik padam pada sore-malam. Sudah bisa dipatikan Wildan akan menangis sepanjang listrik padam. Senin malam minggu lalu, listrik padam Wildan mulai rewel dan marah. Kami nyalakan banyak lilin di rumah, tidak juga meredakan marahnya. Lalu kuajak dia keliling mencari daerah yang tidak mendapat giliran dipadamkan. Rupanya desa sebelah, yaitu Jetak Lor gilirannya pada hari selasa. Maka, kuajak dia berkunjung ke desa tersebut. Kebetulan kami masih berhubungan baik dengan ibu kost yang dulu kami tempati rumahnya. Dua jam kami disana. Saat kuajak kembali ke desa kami, ternyata listrik masih dipadamkan. Akhirnya, kuajak Wildan ke warung yang ramai dimana kami harus antre untuk mendapatkan nasi goreng tiga bungkus. Tujuannya adalah mengulur waktu. Begitu listrik dinyalakan…..kami segera meluncur pulang…waktu menunjukkan jam 21-an.
Hari ini tadi, pagi…listrik sudah padam sekitar jam 07.30 WIB. Bersamaan dengan padamnya televisi, saat itu juga Wildan langsung nampak panik. Begitu sadar listrik padam, Wildan mulai menangis bercucuran air mata dan memintaku untuk memeriksa meteran listrik. Diriku yang sudah siap berangkat kerja terpaksa menahan diri. Di rumah hanya ada kami bertiga; Aku, Wildan, dan asisten rumah tangga. Rasanya tidak mungkin aku bisa pergi melihat Wildan mulai memukul-mukulkan kakinya ke lantai. Tidak jarang perilakunya itu membuat kakinya lecet-lecet dan harus di tensoplast. Sekitar satu jam Wildan dalam kondisi seperti itu dengan usahaku mencegah supaya kakinya tidak dibentur-benturkan. Padahal listrik akan padam minimal empat jam!. Kubilang apapun tidak didengar oleh Wildan.
Ditengah putus asa, kuputuskan untuk mengajak Wildan bicara panjang lebar terserah dia mengerti atau tidak:
“ Wildan..stop menangis!. Sekarang dengarkan mama.
Aku diam sebentar melihat reaksinya. Selama aku nyerocos dengan keras itu, dia membelakangiku, namun dia diam saja. Saat akan menangis lagi, segera kutimpali….
“ Hayo..menangis lagi…biar Wildan diketawain orang
Aku tidak peduli, dia mengerti atau tidak. Tapi….wildan hanya diam saja. Lalu dia renahkan kepalanya dipangkuanku.
“ Kalo wildan mau kegiatan,
Wildan berdiri..dan dia mengambil bukunya, lalu menuju teras. Dia duduk di sana sendirian. Aku tidak berani menyapanya, takut hanya mengingatkannya soal listrik yang padam. Akupun ke kamar. Membaca buku. Sesekali kutengok Wildan yang masih diteras melamun. Oh…kasihannya anakku ….. aku tidak jadi kerja setelah kukirim pesan-pesan pada para mahasiswa. Semoga mereka mengerti kesulitanku, walau terkesan tidak professional. Bissmillah….
Setengah jam kemudian, Wildan beringsut ke halaman dan menit berikutnya mulai enjoy mengamati para tukang yang sedang membangun rumah di depan rumah kami. Kira-kira satu jam Wildan di luar, dia masuk rumah dan menghampiriku. Ditangannya ada sebuah lilin dan korek. Aku nanar memandang anakku. Oh, dia tidak juga mengerti, namun dia belajar bahwa apabila listrik padam maka perlu menyalakan lilin. Kupeluk dia….dan kunyalakan lilinnya. Kuajak dia ke kamar dan kuminta menutup jendela dan pintu kamar, biar lilin nampak benar peruntukannya. Wildan pun puas. Lalu dia keluar lagi, kembali mengamati tukang-tukang bangunan bekerja.
“Wildan, mama kerja. Tidak boleh menangis soal listrik yang padam.
Saat berangkat, aku tidak menoleh lagi kebelakang sampai kantor. Aku percaya, Wildan bisa mencerna kata-kataku yang putus asa tadi dan dia sudah mendapatkan keasyikan tersendiri dengan tidak menggantungkan diri pada pemadaman listrik oleh PLN. Semoga kelak dia menemukan energi listrik pengganti sehingga tidak usah menggunakan jasa PLN yang sudah lama memonopoli di negeri ini.
Selasa, 22 April 2008
Pilihan Dikotomis: Suka Mendol atau Tidak Suka!.
Mula-mula sangat sulit merubah menu makan Wildan. Ayahnya harus bertindak "super jahat" tanpa kompromi memaksa Wildan mencicipi dan menelannya. Sampai dia muntah-muntah. Usaha memasukkan nasi dan sayur ke mulutnya terus dilakukan secara konsisten. Sampai dengan minggu kedua, mungkin Wildan capek juga memberontak, dia mulai menurut dan agaknya memilih kompromi dengan memakannya tanpa paksaan lagi. Bahkan pada minggu-minggu berikutnya, dia mulai bisa menikmati nasi dan sayuran. Bulan berikutnya sampai sekarang terjadi perubahan drastis....dia mulai melahap semua jenis sayuran, khususnya yang berwarna hijau!.
Seleranya pada sayuran hijau sungguh diluar dugaan. Seolah Wildan ingin membayar 'hutang' empat tahun sebelumnya yang tidak kemasukkan satu sayurpun!. Paling disukai adalah sayur kangkung yang ditumis. Pada prinsipnya Wildan sangat alholic dengan masakan yang berbumbu bawang putih dan bawang merah yang digoreng. Sehari bisa habiskan satu unting sampai dua unting sayur hijau (di Malang, harga satu unting sekitar Rp.1000). Tidak jarang tumis kangkung dia makan tanpa nasi.
Soal lauk pauk, telur masih digemari terutama telur mata sapi dan telur dadar. Daging sapi dan daging ayam, asalkan lunak dia senang banget. Terutama daging ayam. Paling menghebohkan adalah saat dia menyukai lauk tertentu. Pada tahun 2007 adalah era maniac dengan lauk bakwan jagung manis. Saking demennya, sampai-sampai orang lain tidak boleh ambil lauk itu. Dia akan jaga saat jagung mulai dibersihkan, dia tungguin saat jagung di haluskan..bahkan dia pastikan jangan sampai ada yang tercecer ha..ha..., diawasinya saat kami goreng, trus tugas Wildan adalah meletakkanya di piring dan di 'kuasai'nya. Saya harus bilang, "Wil, minta jagungnya...". Baru dia beri, itupun dipilihkan yang paling kecil!.
Tahun 2008 ini dia sudah ogah-ogahan dengan bakwan jagung bahkan hampir tidak mau. Agaknya tahun ini akan jadi era maniac MENDOL. Tahu mendol?. Itu lho lauk dari tempe kedelai yang dibumbu dengan kencur, daun jeruk purut, tumbar, bawang merah, bawang putih. Dicampur terus dihaluskan, dikepal-kepal kecil (sebesar biji durian ukuran sedang) lalu di goreng eh...Wildan lebih suka dibalut dikit dengan tepung (kami campur dengan tepung tapioka atau tepung beras). Wah, menu mendol membuat Wildan gak bisa berhenti makan rasanya...tambah..tambah..dan terus tambah...Sampai-sampai demi kesehatan perut, saya hanya keluarkan mendol sejumlah cukup untuk makan sekali. Pas-nya Wildan sekitar 5-6 biji.
Perilaku Wildan dalam urusan makan ini memberi pengetahuan tentang karaktristik khas-nya. Yaitu cenderung ekstrem dalam urusan suka tidak suka. Bila dia suka akan sangat suka, bila dia tidak suka juga akan sangat tidak suka. Tidak ada satupun menu yang menunjukkan dia sedang-sedang saja suka-nya. jadi apa yaaa...selera makan Wildan itu hanya ada dua pilihan dikotomis: Hitam atau Putih. Suka atau Tidak.
Kamis, 17 April 2008
Pernak-Pernik Ritual Sebelum Tidur
Barang-barang tersebut terasa aneh karena keadaannya sudah 'bujubuneng', sementara Wildan begitu cinta sama barang-barang tersebut. Bantal warna merah misalnya, sudah berkali-kali bantal itu harus kami jahit. Kami punya banyak bantal, tapi Wildan hanya mau yang warna merah dan berisi kapuk yang banyak bijinya. Biasanya biji kapuk akan di"giring' Wildan menuju pojok bantal. Nah, dia kemudian akan asyik 'menthil' deh'.
Sama dengan si bantal merah, selimut satin warna blewah keadaannya juga robek-robek. Bahkan sisi dalam selimutpun busanya sudah habis. Wildan sendiri tidak nyaman dengan keadaan robek tsb, makanya dia selalu mentodorkan selimutnya untuk dijahit. Tetapi tidak mau ganti. Suatu ketika ibuk membelikan selimut baru warna merah dari bahan bulu yang sangat ringan tetapi hangat. Setiap waktu ibuk memasukkan konsep pada Wildan bahwa itu adalah selimut baru Wildan. Dua hari setelah beli, saat Wildan tidur...kami coba ganti selimutnya dengan selimut baru....sedetik...semenit..sepuluh menit...tiba-tiba Wildan bangun dan menyingkap selimut barunya, trus mengambil selimut lama...dan tidur lagi seolah kami tidak ada disekelilingnya. Besuknya, kami ulang usaha mengganti selimut. Pada waktu itu, akirnya Wildan juga tetap terbangun dan tidak mau tidur lagi!. Sejak itu kami tidak berni lagi mengganti selimut......
Keyboard komputer adalah keyboard yang sudah rusak. Rupanya Wildan sangat menikamti bunyi tuts-nya ketika dipencet tek..tektek..tek.. Dia akan mencet-mencet terus seperti orang mengetik. Dilakukaknya sambil duduk, berjalan, maupun tiduran...Bahkan menjadi tanda bagi kami saat dia ditawari makan dan setelah melihat menunya trus mengambil keyboards..tandanya dia cocok dengan menu makanannya. Padahal....key board itu sekarang sudah patah jadi dua (tapi gak sampai putus) dengan ujung-ujung yang sudah retak!.
Tidak kalah mengenaskan kondisi block note sampul kulit imitasi. Sebenarnya itu block note saya diberi teman yang menjadi reporter RRI. Waktu Wildan melihat ada di tas saya, dia mengambilnya dan mulai 'meguasai'nya. Digambari dengan beraneka bednera negara sedunia, gambar presiden, dan apapun coretan bollpoinnya. Sekarang isi block note sudah sobek dan menhilang, tinggal sampulnya saja!.
Tetapi jangan coba-coba menyembunyikan barang-barang Wildan tersebut karena dia gak akan tidur dan terus rewel, bila barang-barang tersebut tidak berada disampingnya. Jadi bisa dibayangkan deh, setiap Wildan mau tidur, kami semua panik mencari barang-barang tersebut!.
Senin, 03 Maret 2008
Catatan tentang Wildan (anak autis yang hobi melukis)
Perkembangan berat badannya sangat pesat menginjak usia 30 hari. Persis pada usia 50 hari, Wildan nampak gimbul dan dijuluki si bayi No Problemo seperti dalam iklan-iklan. Betapa tidak, minumnya sangat kuat. Karena air susu saya sangat tidak significant untuk membuatnya kenyang, maka Kami memberinya susu formula produksi Md dengan pertimbangan kadar mineral yang lebih tinggi dibandingkan susu formula lain. Pilihan pada Em, Ep, dan Ss sesuai dengan usianya. Porsi Wildan adalah 800 gram habis dalam lima hari.
Perkembangan motorik WRL nampak normal. Usia 6 bulan dia sudah mulai berusaha mengangkat kepala saat dibaringkan. Usia 8 bulan dia sudah bisa duduk. Merangkak juga pada usia yang semestinya. Belum genap setahun dia sudah berdiri merayap. Perkembangan motorik halus juga nampak normal. Memegang benda-benda juga sudah bisa pada usia yang semestinya.
Saat itu, ada satu perilaku WRL yang berbeda dengan bayi kebanyakan, yaitu WRL tidak pernah mau melihat orang-orang yang menggodanya. Bahkan cenderung sengaja melengos saat dipanggil atau ditatap wajahnya. Bayi WRL juga tidak begitu tertarik dengan bunyi-bunyi mainannya tapi dia sangat tertarik pada mainan yang berputar-putar. Bahkan lebih tertarik pada lambaian gordin jendela dan daun-daun yang terhempas angin daripada mainan anak-akan pada umumnya. Perilaku suka mlengos dan tidak mau merespon panggilan itu malah membuat gemess kebanyakan orang. Rasanya semua orang merasa lucu saja ada bayi kok cuek.
KAMI MULAI CURIGA
Sebenarnya, pada usia 11 bulan, WRL mulai berbicara, walau hanya satu kata. Yaitu ”ME” sebagai tanda dia minta minum. Dan pada usia 13 bulan kosakatanya bertambah satu, ”UDAH” bila dia ditatur untuk pipis. Namun, seiring usianya yang bertambah, kosakatanya tidak bertambah. Bahkan lambat laun hilang sama sekali pada usia 16 bulan dan dia hanya mengeluarkan suara saat tertawa dan menangis. Kami mulai khawatir dan semakin khawatir ketika masuk usia 2 tahun, WRL tidak juga berbicara dan semakin cuek dengan bahasa maupun kehadiran orang lain.
Berbagai komentar muncul disekitar kami, hampir semua memberi tanda untuk kebesaran hati, ”biasa..anak laki-laki...telat bicara” atau ”anak laki-laki memang biasanya jalan dulu..gak apa..biasa kok..”. Rasanya hanya Bapak saya (alm) yang sudah melihat adanya ketidak beresan pada diri cucunya. Beberapa kali Bapak mendesak supaya Kami segera memeriksakan WRL pada orang medis. Hal ini bisa kumaklumi, karena sejak Bapak pensiun, Bapaklah yang paling banyak bersama WRL pada saat kami bekerja pagi hingga sore. Tiap pagi, WRL diajak jalan-jalan sama bapak, meyusuri sawah dan taman bunga, lalu singgah di rumah sahabat-sahabat Bapak. Maklum cucu pertama. Apalagi sejak WRL usia 7 bulan, ayahnya berpindah kerja di Makassar dan pulang sebulan sekali, sementara kami tetap di Jawa dan pada saat WRL berusia 19 bulan, dia sudah memiliki adik. Maka perhatiankupun semakin terbagi dan terpecah, maka pelibatan Bapak pada cucu pertamanya itu sungguh suatu anugerah.
Pada saat usia WRL 2 tahun, Kami pindahan ke rumah sendiri, kira-kira 7 km dari rumah orang tua dimana selama ini Kami numpang. Suami memutuskan keluar dari tempat kerja supaya bisa berkumpul satu atap dengan Kami dan memulai usaha sendiri (wiraswasta). Kekhawatiran Kami semakin bertambah manakala WRL tidak menunjukkan kemajuan dalam wicara dan perilaku sosial. Dia juga memiliki kebiasaan-kebiasaan aneh yang bersifat ritual. Misalnya, setelah habis mandi, dia akan lari ke kamar tamu, menempelkan perutnya ke tembok, baru mau pake baju. Bila makan, dimeja makan kecilnya tersusun secara konsisten dengan urutan sebelah kiri tempat sendok, tengah kan minuman, dan sebelah kanan botol susu dengan posisi gambar menghadap dirinya. Pabila kami merubah posisi tersebut, maka WRL akan mengembalikan ke posisi semula.
Kekhawatiran itulah yang kemudian awal dari perjalanan panjang kami bersama Wildan.